Hakikat Bahasa


st1\:*{behavior:url(#ieooui) }
<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:Wingdings; panose-1:5 0 0 0 0 0 0 0 0 0; mso-font-charset:2; mso-generic-font-family:auto; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:0 268435456 0 0 -2147483648 0;} @font-face {font-family:”Monotype Corsiva”; panose-1:3 1 1 1 1 2 1 1 1 1; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:script; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;} @font-face {font-family:Calibri; mso-font-alt:”Century Gothic”; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:swiss; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:””; margin:0in; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} p.MsoFooter, li.MsoFooter, div.MsoFooter {margin:0in; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; tab-stops:center 3.0in right 6.0in; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} p.MsoBodyText2, li.MsoBodyText2, div.MsoBodyText2 {mso-style-link:” Char Char2″; mso-style-next:Normal; margin:0in; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; mso-layout-grid-align:none; text-autospace:none; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:Calibri;} a:link, span.MsoHyperlink {color:blue; text-decoration:underline; text-underline:single;} a:visited, span.MsoHyperlinkFollowed {color:purple; text-decoration:underline; text-underline:single;} span.CharChar2 {mso-style-name:” Char Char2″; mso-style-locked:yes; mso-style-link:”Body Text 2″; mso-ansi-font-size:12.0pt; mso-bidi-font-size:12.0pt; font-family:Calibri; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-ansi-language:EN-US; mso-fareast-language:EN-US; mso-bidi-language:AR-SA;} p.Default, li.Default, div.Default {mso-style-name:Default; mso-style-parent:””; margin:0in; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; mso-layout-grid-align:none; text-autospace:none; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:Calibri; color:black;} @page Section1 {size:8.5in 11.0in; margin:113.75pt 84.95pt 84.95pt 113.75pt; mso-header-margin:.5in; mso-footer-margin:.5in; mso-page-numbers:1; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} /* List Definitions */ @list l0 {mso-list-id:587662219; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:574942380 67698713 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l0:level1 {mso-level-number-format:alpha-lower; mso-level-tab-stop:.5in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in;} @list l1 {mso-list-id:875392040; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:901425578 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693;} @list l1:level1 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:; mso-level-tab-stop:.5in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in; font-family:Symbol;} ol {margin-bottom:0in;} ul {margin-bottom:0in;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin:0in;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}

BAB I

PENDAHULUAN

Bahasa adalah sesuatu yang hidup. Sebagai sesuatu yang hidup, ia tentu mengalami perkembangan.Dan perkembangan berarti perubahan. Perubahan itu terjadi, oleh karena bahasa adalah satu-satunya milik manusia yang tak pernah lepas dari segala kegiatan dan gerak manusia sebagai makhluk yang berbudaya dan bermasyarakat. Keterikatan dan keterkaitan bahasa dengan manusia itulah yang mengakibatkan bahasa itu menjadi tidak statis, atau meminjam istilah Chaer (1994:53) bahwa bahasa itu dinamis.

Kecenderungan studi bahasa yang memisahkan bahasa dengan dimensi pemakai dan pemakaiannya (konteks sosialnya) inilah yang kemudian mengilhami lahirnya pendekatan baru dalam studi bahasa yaitu sosiolinguistik. Dalam hal ini, objek studi bahasa dalam pandangan sosiolingustik bukan hanya semata dilihat dari sistem atau kaidah-kaidah bahasa itu, melainkan juga pada konteks dan komunikatifnya. Sejalan dengan ini Tallei (1997) menyatakan bahwa bahasa tidaklah digunakan dalam bentuk kalimat yang terisolasi, melainkan dalam situasi nyata yang dilatarbelakangi oleh konteks dan digunakan untuk tujuan berkomunikasi.

Sehingga dengan demikian objek studi bahasa dalam perspektif sosioliguistik adalah parole (dalam konsep Saussure,1916), atau performansi (dalam konsep Chomsky). Konsep-konsep parole dan performansi itu diabstraksi dari bahasa yang benar-benar digunakan secara aktual. Setiap orang akan menghasilkan parole dan performance secara berbeda. Dari perbedaan itulah kemudian dikenal variasi bahasa..

Pada waktu anggota masyarakat bahasa berinteraksi, mereka menggunakan aturan-aturan yang mereka mengerti bersama tentang bagaimana menyampaikan pesan dan memberikan respon, bagaimana bertanya-jawab, bagaimana memberikan pengahargaan dan sanjungan, bagaimana tanggapan tentang hal itu disampaikan, dan banyak hal lain yang secara rutin dihadapi setiap hari.

Di dalam kehidupannya bermasyarakat, sebenarnya manusia dapat juga menggunakan alat komunikasi lain, selain bahasa. Namun, nampaknya bahasa merupakan alat komunikasi yang paling baik, paling sempurna, dibandingkan dengan alat-alat komunikasi lain.

Oleh karena itu, untuk memahami bagaimana wujud komunikasi yang dilakukan dengan bahasa ini, terlebih dahulu dalam makalah ini akan dibicarakan apa hakikat bahasa, apa hakikat komunikasi, kemudian baru dibicarakan apa dan bagaimana komunikasi bahasa itu, serta apa dan bagaimana kelebihannya dari alat komunikasi lain.

BAB II

PEMBAHASAN

A. Hakikat Bahasa

Dari beberapa buku linguistik akan kita jumpai berbagai rumusan mengenai hakikat bahasa. Rumusan-rumusan itu kalau dibutiri akan menghasilkan beberapa ciri yang merupakan hakikat bahasa. Ciri-ciri yang merupakan hakikat bahasa itu antara lain :

a. bahasa itu sebuah sistem lambang

b. bahasa berupa bunyi

c. bahasa bersifat arbitrer

d. bahasa itu produktif

e. bahasa itu dinamis, beragam, dan manusiawi.

Ciri-ciri bahasa yang disebutkan di atas, yang menjadi indikator akan hakikat bahasa adalah menurut pandangan linguistic umum (general linguistics). Menurut pandangan sosiolinguistik bahasa itu juga mempunyai ciri sebagai alat interkasi social dan sebagai alat mengidentifikasikan diri.

B. Fungsi-Fungsi Bahasa

Bagi sosiolinguistik konsep bahwa bahasa adalah alat atau berfungsi untuk menyampaikan pikiran dianggap terlalu sempit, sebab seperti dikemukakan Fishman (1972) bahwa yang menjadi persoalan sosiolinguistik adalah “who spreak what language to whom, whem and towhat end”. Oleh karena itu, fungsi-fungsi bahasa itu, antara lain dapat dilihat dari sudut penutur, pndengar, topik, kode dan amanat pembicaraan.

Dilihat dari sudut penutur, maka bahasa itu berfungsi personal atau pribadi (Haliday 1973, Finnocchiaro 1974; Jakobson 1960 menyebutnya fungsi emotif). Maksudnya, si penutur bukan hanya mengungkapkan emosi lewat bahasa, tetapi juga memperlihatkan emosi itu sewaktu menyampaikan tuturannya. Dalam hal ini pihak si pendengar juga dapat menduga apakah si penutur sedih, marah, atau gembira.

Dilihat dari segi pendengar atau lawan bicara, maka bahasa itu berfungsi direktif (Finnocchiaro 1974) yaitu mengatur tingkah laku pendengar. Di sini bahasa itu tidak hanya membuat si pendengar melakukan sesuatu, tetapi melakukan kegiatan yang sesuai dengan yang dimaui si pembicara. Hal ini dapat dilakukan si penutur dengan menggunakan kalimat-kalimat yang menyatakan perintah, himbauan, permintaan, maupun rayuan.

Bila dilihat dari segi kontak antara penutur dan pendengar maka bahasa di sini berfungsi fatik (Jakobson 1960), yaitu fungsi manjalin hubungan, memelihara, memperlihatkan perasaan bersahabat, atau solidaritas social. Ungkapan yang digunakan biasanya berpola tetap, seperti pada waktu berjumpa, berpisah, membicarakan cuaca. Ungkapan-ungkapan fatik ini juga biasanya disertai dengan unsur paralinguistic, seperti senyuman, gelengan kepala, gerak-gerik tangan.

Dari segi topik ujaran, maka bahasa itu berfungsi referensial (Finnocchiaro 1974) ada juga yang menyebutnya fungsi denotatif atau fungsi informatif. Di sini bahasa itu berfungsi sebagai alat untuk menyatakan pikiran, untuk menyatakan bagaimana pendapat sipenutur tentang dunia disekelilingnya.

Kalau dilihat dari segi kode yang digunakan, maka bahasa itu berfungsi metalingual atau metalinguistik (Jakobson 1960) yakni bahasa itu digunakan untuk membicarakan bahasa itu sendiri. Hal ini dapat dilihat dari proses pembelajaran bahasa dimana kaidah-kaidah atau aturan-aturan bahasa dijelaskan dengan bahasa.

Dari segi amanat yang akan disampaikan, maka bahasa itu berfungsi imaginatif (Halliday 1973). Sesungguhnya, bahasa itu dapat digunakan untuk menyampaikan pikiran, gagasan, dan perasaan;baik yang sebenarnya, maupun yang berbentuk khayalan, rekaan saja. Fungsi imaginatif ini biasanya berupa karya seni yang digunakan untuk kesenangan penutur, maupun para pendengarnya.

C. Hakikat Komunikasi

Komponen komunikasi adalah hal-hal yang harus ada agar komunikasi bisa berlangsung dengan baik. Menurut Laswell komponen-komponen komunikasi adalah:

  • pengirim atau komunikator (sender) adalah pihak yang mengirimkan pesan kepada pihak lain
  • pesan (message) adalah isi atau maksud yang akan disampaikan oleh satu pihak kepada pihak lain.
  • saluran (channel) adalah media dimana pesan disampaikan kepada komunikan. dalam komunikasi antar-pribadi (tatap muka) saluran dapat berupa udara yang mengalirkan getaran nada/suara.
  • penerima atau komunikate (receiver) adalah pihak yang menerima pesan dari pihak lain
  • umpan balik (feedback) adalah tanggapan dari penerimaan pesan atas isi pesan yang disampaikannya.

Pada awal kehidupan di dunia, komunikasi digunakan untuk mengungkapkan kebutuhan organis. Sinyal-sinyal kimiawi pada organisme awal digunakan untuk reproduksi. Seiring dengan evolusi kehidupan, maka sinyal-sinyal kimiawi primitif yang digunakan dalam berkomunikasi juga ikut berevolusi.

Manusia berkomunikasi untuk membagi pengetahuan dan pengalaman. Melalui komunikasi, sikap dan perasaan seseorang atau sekelompok orang dapat dipahami oleh pihak lain. Akan tetapi, komunikasi hanya akan efektif apabila pesan yang disampaikan dapat ditafsirkan sama oleh penerima pesan tersebut.

Suatu proses komunikasi memang sering kali tidak dapat berjalan dengan mulus karena adanya gangguan atau hambatan. Tiadanya kesadaran dari salah satu pihak partisipan merupakan suatu hambatan. Gangguan dan hambatan lain, misalnya, daya pendengaran salah satu partisipan yang kurang baik, suara bising di tempat komunikasi berlangsung, atau juga kemampuan penggunaan bahasa yang kurang.

C. Komunikasi Bahasa

Setiap psoses komunikasi bahasa dimulai dengan si pengirim merumuskan terlebih dahulu yang ingin diujarkan dalam suatu kerangka gagasan. Proses ini dikenal istilah semantic encoding. Gagasan itu lalu disusun dalam bentuk kalimat atau kalimat-kalimat yang gramatikal;proses memindahkan gagasan dalam bentuk kalimat yang gramatikal ini disebut grammatical encoding. Setelah tersusun dalam kalimat yang gramatikal, lalu kalimat (yang berisi gagasan tadi) diucapkan. Proses ini disebut phonological encoding. Kemudian oleh si pendengar atau penerima, ujaran tadi di terjemahkan (decoding).

Ada dua macam komunikasi bahasa, yaitu komunikasi searah dan komunikasi dua arah. Dalam komunikasi searah, si pengirim tetap sebagai sipengirm, dan si penerima tetap sebagai penerima. Dalam komunikasi dua arah, secara berganti-ganti si pengirim bisa menjadi penerima, dan penerima bisa menjadi pengirim.

Sebagai alat komunikasi, bahasa itu terdiri dari dua aspek, yaitu aspek linguistik dan aspek paralinguistic. Kedua aspek ini berfungsi sebagai alat komunikasi, bersama-sama dengan konteks situasi membentuk atau membangun situasi tertentu dalam proses komunikasi. Dewasa ini, dengan bantuan alat-alat modern sistem komunikasi bahasa telah dapat menembus jarak dan waktu.

D. Keistimewaan Bahasa Manusia

Dalam makalah yang disajikan C. F. Hockett dalam konfrensi tentang kesemestaan Bahasa di Dobbs Ferry, AS, tahun 1961, Hocket mendaftarkan 16 ciri khusus yang membedakan bahasa dari sistem komunikasi dari mahluk sosialyang lain, yaitu: (1) Jalur vokal-auditif; (2) Penyiaran ke semua jurusan, tetapi penerimaan yang terarah; (3) Cepat hilang; (4) Dapat saling berganti; (5) Umpan balik yang lengkap; (6) spesialisasi; (7) Kebermaknaan; (8) Kewenangan; (9) Keterpisahan; (10) Keterlepasan (11) Keterbukaan; (12) Pembelajaran; (13) Dualitas Struktur; (14) Benar atau tidak; (15) Refleksivitas; dan (16) Dapat dipelajari.

BAB III

PENUTUP

Semua orang mepunyai kemampuan untuk berkomunikasi dengan orang lain dengan menggunakan bahasa. Menggunakan bahasa atau berbahasa ini adalah suatu kegiatan yang menjadi bagian terpenting yang dibutuhkan oleh manusia, sehingga berbahasa itu sifatnya alamiah atau sesuatu yang normal.

Dengan bahasa, membuat kita manjadi mahluk yang bermasyarakat serta menjadi sarana untuk mengekspresikan diri, menyampaikan pesan kepada orang lain dan yang utama dalam proses komunikasi.

Dalam Konfrensi tentang Kesemestaan Bahasa di Dobbs Ferry, AS, tahun !961, J.H Greenberg (1963) mendaftarkan 16 ciri khusus bahasa manusia, yaitu: (1) Jalur vokal-auditif; (2) Penyiaran ke semua jurusan, tetapi penerimaan yang terarah; (3) Cepat hilang; (4) Dapat saling berganti; (5) Umpan balik yang lengkap; (6) spesialisasi; (7) Kebermaknaan; (8) Kewenangan; (9) Keterpisahan; (10) Keterlepasan (11) Keterbukaan; (12) Pembelajaran; (13) Dualitas Struktur; (14) Benar atau tidak; (15) Refleksivitas; dan (16) Dapat dipelajari.

Adapun pembahasan inti dalam makalah ini, terdiri atas : 1) hakikat bahasa, 2) Fungsi-fungsi bahasa, 3) hakikat komunikasi, 4) komunikasi bahasa, dan 5) keistimewaan bahasa manusia.

Für Ihre auf Mersamkeit bedanke ich mich Ihnen sehr. On3.

DAFTAR PUSTAKA

Subjakto, Sri Utami, Dr.1998. Sosiolinguistik Suatu Pengantar. Jakarta: Dep. Pendidikan dan Kebudayaan.

Chaer, Abdul. Sosiolinguistik Kajian Teoritik. Jakarta: PT. Rineka Cipta.

Dardjowidjojo, Soenjono. 2003. Psikolinguistik. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

(B. J. Gunawan)

About these ads

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.