Literatur Jerman


v\:* {behavior:url(#default#VML);}
o\:* {behavior:url(#default#VML);}
w\:* {behavior:url(#default#VML);}
.shape {behavior:url(#default#VML);}

st1\:*{behavior:url(#ieooui) }
<!– /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:””; margin:0in; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} @page Section1 {size:8.5in 11.0in; margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.4in; mso-header-margin:.5in; mso-footer-margin:.5in; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} /* List Definitions */ @list l0 {mso-list-id:1390419620; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:-1675712466 67698709 67698705 -1795410338 1994394906 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l0:level1 {mso-level-number-format:alpha-upper; mso-level-tab-stop:.25in; mso-level-number-position:left; margin-left:.25in; text-indent:-.25in;} @list l0:level2 {mso-level-text:”%2\)”; mso-level-tab-stop:1.0in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in;} @list l0:level3 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:; mso-level-tab-stop:108.35pt; mso-level-number-position:left; margin-left:109.8pt; text-indent:-.15in; mso-ansi-font-size:10.0pt; mso-bidi-font-size:10.0pt; font-family:Symbol;} @list l0:level4 {mso-level-text:”%4\)”; mso-level-tab-stop:2.0in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in; mso-ansi-font-weight:bold;} ol {margin-bottom:0in;} ul {margin-bottom:0in;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin:0in;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}

Literatur (Kesusatraan) Jerman

Sastra (Sansekerta, shastra) merupakan kata serapan dari bahasa Sansekerta śāstra, yang berarti “teks yang mengandung instruksi” atau “pedoman“, dari kata dasar śās- yang berarti “instruksi” atau “ajaran“. Dalam bahasa Indonesia kata ini biasa digunakan untuk merujuk kepada “kesusastraan” atau sebuah jenis tulisan yang memiliki arti atau keindahan tertentu. Tetapi kata “sastra” bisa pula merujuk kepada semua jenis tulisan, apakah ini indah atau tidak Selain itu dalam arti kesusastraan, sastra bisa dibagi menjadi sastra tertulis atau sastra lisan (sastra oral).

Kesusatraan Jerman

Sastra Jerman pada dasarnya meliputi segala karya jiwa bangsa Jerman, baik tertulis maupun lisan, yang mempunyai ciri khas Jerman, dalam arti mencerminkan pandangan hidup, keyakinan dan adat istiadat yang khas.

A. Pembabakan Sejarah Kesusatraan Jerman

Sebelum Perang Dunia II terdapat periodisasi sederhana yang membagi sejarah kesusatraan Jerman kedalam delapan babak sebagai berikut:

1) Dari awal tahun Masehi sampai zaman Carolus Magnus (Karl der Grosse) alias Karel yang Agung (768-814), yaitu zaman saga (cerita rakyat atau hikayat) kepahlawanan kuno.

2) Dari zaman Karl der Grosse sampai awal abad ke-12 (800-1100). Pada masa ini, kesusatraan Jerman berada ditangan kaum gereja (Geistlichdichtung).

3) Puncak perkembangan kesusatraan Jerman (1100-1300). Kesusatraan teutama dikembangkan oleh kalangan bangsawan, yaitu kasta ksatria, (Ritter), yang disebut Ritterlichedichtung.

4) Pengembangan kesusatraan berada ditangan golongan sarjana, “zaman meniru” (Zeit der Nachahnung) (1624-1748).

5) Puncak kedua perkembangan kesusatraan Jerman (1748-1871).

6) Kesusatraan Jerman dari tahun 1871 samapi 1914.

B. MASA SEBELUM TAHUN 1750

1) Zaman Carolus Magnus (768-814), masa perubahan dalam kehidupan spiritual, begitu pula dalam kesusatraan bangsa Jerman. Karl yang Agung berencana untuk menyatukan semua keturunan bangsa Jerman di bawah kekuasaanya dan membimbing mereka ke arah agama Kristen, meningkatkan pengetahuan yang ditakdirkan mejadi guru rakyat, mendirikan sekolah biara, serta sikapnya yang menjungjung tinggi Kepribadian bangsa Jerman, diantaranya dengan memelopori penggunaan nama-nama bulan dalam bahasa Jerman.

2) Hildesbrandslied, peninggalan satra rakyat jerman abad ke-8 yang mengisahkan sebagian dari saga Dietrich.

3) Kesusatraan Kristen Abad Ke-9, peninggalan-peninggalan terpenting dari zaman ini spt, Doa Wessobrunn (permohonan ketauhidan dan menunaikan kehendak Tuhan), Muspilli (menceritakan hari kiamat),Heliand dsb.

4) Zaman Kesusatraan Latin, dalam segala kegiatan kesusatraan, bahasa latin digunakan.

C. SPAETRENAISSANCE DAN BAROCK (ABAD KE-17)

Pada masa ini ini bahasa Jerman penuh dengan kita asing terutama bahasa Roman , sehingga bahasa lisan dan tulisan menjadi campur aduk. Hal tersebut disebutkan oleh banyaknya pasukan asingh dan pelarian yang datang ke Jerman. Lirik terpenting zaman ini ialah lirik keagamaan.

1) Spaetrenaissance, sering disebut sebagai akhir renaisans, yang menampakkan pengaruhnya dalam bidang sastra, memperlihatkan ketegasan dan ketenangan garis-garis sederhana dalam seni antik dan seni renaisans.

2) Barock, soal batiniah yang lebih mendalam dan mencerminkan perasaan sastrawannya, penih dengan gerak dan garis yang berbelit-belit yang hamper memberi kesan kacau dengan dengan hiasan berlebih-lebihan, namun mempunyai daya kesan mengagumkan.

D. AUFKLAERUNG (1700-1780)

Aufkklaerung merupakan aliran jiwa yang berkembang dibawah pengaruh rasionalisme Jerman. Kita Aufklaerung seolah-olah sebagai semboyan perjuangan, karena kata itu berarti penerangan jiwa, pembebasan dari prasangka tradisional, penghancuran segala keburukan misalnya penyiksaan dalam peradilan. Salah satu cirinya ialah bahwa akal manusia dapat dan akan melahirkan kemajuan manusia kea rah kebebasan dan kebahagiaan yang tidak akan terhenti. Kemajuan itu secara praktis betujuan untuk memperbaiki kehidupan manusia.

Pelopor terkemuka zaman ini ialah ahli filsafat Liebnis. Ia berkeyakinan bahwa alam semesta dikuasai oleh akal dan ia mempercayai bahwa Tuhan telah meciptakan bumi ini sebagai dunia yang terbaik diantara dunia-dunia lainnya.

Karya-karya sastranya seperti, Klasisme, Empfindsamkit, Rokoko, Kritik, dan Drama.

E. STURM UND DRANG DAN KLASSIK

1) Sturm und Drang merupakan istilah yang diambil dari judul drama karya Maximilian von Klinger dan maksudnya ialah gelora dan desakan hati (Sturm=topan, Drang=desakan). Sturm und Drang merupakan generasi sastrawan baru yang timbul dengan hati bergelora menentang rasa puas ini dan memperjuangkan unsur-unsur kekuatan batin yang irasional yang terdesak oleh gerakan Aufklaerung.Orang yang sangat besar pengaruhnya terhadap generasi muda masa ini ialahahlin filsafat Perancis Jean Jaques Rousseau (1712-1778). Ia mengajarkan bahwa manusia akan lebih berbahagian dan bersifat lebih baik jiak berada dalam keadaan alami yang asli daripada berada dibawah kekuasaan kebudayaan. Demngan demikiaan, Rosseau megajarkan bahwa kebudayaan bukanlah membawa kemajuan, melainkan penyelewengan.

2) Peralihan ke Zaman Klassik, perjalanan hidup seperti Goethe dan Schiller menunjukkan pergulatan untuk mencapai perdamaisn. Hasil pergulatan ini berupa karya sastra yang matang dan murni pada tahap kedewasaan mereka.

JOHANN WOLFGANG VON GOETHE (1749-1839)

oethe dilahirkan pada 28 Agustus 1749 di Frankfurt sebagai anak orang berada. Dari ayahnya, Johan Kaspar Goethe, ia mewarisi sikap hidup tertib dan tenang serta bersungguh-sungguh. Sedangkan ibunya, Katharina Elisabeth, mewariskan kepadanya sifat berfantasi yang hidup serta kemahiran bercerita.

Karena kota kelahirannya adalah kota dagang yang berhubungan luas dan penuh dengan peninggalan-peninggalan sejarah, maka persyaratan dasar bagi tumbuhnyamenjadi seorang seniman jenius tersedia. Di kota Strassburg terjadi sua kejadian penting dalam hidupnya, Pertama, perkenalannya dengan Herder yang untuk sementara ada di kota itu, suatu pertemuan antara dua orang yang berjiwa besar yang sebenarnya merupakan detik kelahiran periode ,,m und Drang”. Kedua, peristiwa yang mematangkan Goethe sebagai sastrawan ialah percintaannya dengan puteri pendeta di Dusun Susenheim, dekat Stassburg bernama Friederike Brion.

FRIERICH SCHILLER (1759-1805)

ohan Christop Friederich Schiller dilahirkan pada 10 November 1759 di Marbach, kota ditepi Sungai Neckar. Berasal dari keluarga sederhana, ayahnya adalah perwira dalam dinas ketentraan Raja Karl Eugene von Wuerttemberg yang memerintah negarannya secara sewenang-wenang dengan segala gejalannya, seperti pemborosan di istana, penindasan rakyat. Mula-mula ia didik menjadi ahli hokum, namum kemudian memilih bidang kedokteran, hingga menjadi dokter. Paksaan dan tekanan yang dideritannya dalam asrama melahirkan hasrat memberontak dalam jiwanya untuk mencapai kebebasan dan ini ia lampiaskan dalam karyan drama pertamanya, die Rauber.

F. ROMANTIK

Romantik merupakan aliran sastra yang bertendens makin berbeda dari tendensi Klasik yang merupakan kerja sama Goethe dan Schiller pada tahun-tahun terakhir abad ke-18. aliran romatik bersifat subjektif;tidak ada norma umum dalam kesusilaan;setiap manusia mempunyai hukum kesusilaannya sendiri yang ditentukan oleh wataknya. Kaum romatik juga mengemari rahasia kehidupan rohani yang belum dikenal, alam diluar sadar yang terdapat dalam impian dan dunia nafsu, rahasia dibalik alam nyata yang tampil, misalnya, dalam magnetifisme dan hipotesis. Dalam aliran Aufklarung menyamakan agama dan kesusilaan yang menghilangkan kemandirian, maka aliran Romatik mengembalikan kedudukannya.

Karena merasa tidak puas dengan keadaan zaman, para sastrawan Romantik dengan semangat muda yang bergelora, berjuang untuk menciptakan kehidupan dan kebudayaan baru. Justru karena hasrat pembaharuan inilah mereka menoleh ke zaman lampau yang kekuatan dan kenyataannya, menurut mereka, harus dimanfaatkan guna membangung hari depan yang gemilang. Para pujangga Romantik lama seperti Dante dan Cervantes ditemukan kembali, sedangkan Shakespear disanjung sebagai pujangga Romantik. Karya tertinggi seni terjemahan Zaman Romantik ialah menerjemahkan karya-karya Shakespeare oleh Ludwig Tieck dan August Wilhelm Schlegel.

1) Sastera Romantik

Kaum Romantik mengangap tugas sastra sebagai tugas yang luhur.menurut anggapan mereka, sastra tidak boleh melukiskan keadaan nyuata, melainkan menciptakan kenyataan yang lebih nyata, yang bersumber pada dugaan dan perasaan.oleh karena itu, dongen (Maerdchen) merupakan bentuk seni yang banyak digunakan. Bahasa sastra yang digunakan umumnya tidak bersifat realistis sama sekali, kadang-kadang tidak menentu dan sering sekali sangat banyak mengandung unsur musik. Sementara seni drama terdesak, hanya Kleist saja yang dramawan.

2) Romantik Lama dan Baru (Aeltere und Juegere Romantik)

· Aeltere Romantik (1759-1805) bersifat sangat filosofis dan teoritis, sebagian berhubungan erat dengan filsafat Fichte dan Schelling. Masa ini praktis tidak produktif. Pusat gerakan kota ini adalah kota Jenna, sedangkan tokoh-tokoh utamanya dua bersaudara Friederich dan August Wilhelm Schegel, Tieck dan Novalis. Mereka lebih produkti dalam bidang kritik dan sejarah daripada sastra.tokoh yang paling penting dan produktif adalah Ludwig Tieck. Karya-karyanya menyebarkan gerakan Romantik ke kalangan lebih luas.

· Juengere Romantik (1805) kurang teoritis, namun lebih berperasaan, lebih kerakyatan dan lebih produktif. Pusatnya yang terpenting adalah Heidelberg dan Berlin. Tokoh-tokohnya antara lain Achim von Arnim, Clemes vonm Betano. Tiga tokoh penting adalah Jean Paul, Friederich Heulderin dan Heirich von Kleis.

3) Kesimpulan Masa Goethe

· Kesusatraan

Hari lahir dan hari awalnya merupakan batas awal dan akhir puncak perkembangan kesusatraan Jerman. Dengan demikian, masa Goethe meliputi akhir zaman Aeufklaerung, zaman Sturm und Drang, Masa Klasik dan Masa Romantik.

· Filsafat

Kehidupan rohani yang ramai dalam karya-karyanya berpengaruh juga pada lapangan lain. Filsafat mencapai puncaknya pada waktu itu pula. Ide-ide revolusioner Imanuel Kant (1724-1804) yang menjadi daya penggerak yang kuat suatu aliran yang disebut Idealismus. Karena prestasi-prestasi besar bangsa Jerman mendapat julukan “das Volk der Dichter und Denker” (Bangsa Sastrawan dan Pemikir).

· Musik

Disamping sastra dan filsafat, prestasi bangsa Jerman pada masa Goethe adalah puisi. Pada masanya, perkembangan musik kamar dan sinfoni sangatlah menonjol, dengan tokoh-tokoh Joseph Hayda dan Wolfgang Amadeus Mozart, dan mencapai puncak pada Ludwig van Bethoven.

G. JUNGES DEUTSCHLAND und BIEDERMEIR (1825-1855)

Kesusatraan Jerman sesudah masa Goethe mengalami perubahan yang sangat berarti, sehingga memunculkan beberapa aliran setelahnya. Dua aliran yang ada, yakni Junges Deutschland (Jerman Muda) dan Biedermeier merupakan dua aliran sastra terpenting yang sifatnya berlainan, bahkan bertentangan dengan yang ada sebelumnya.

1) Jiwa Junges Deutschland, bersumber sebagian besar pada keadaan politik zaman itu, tidak puas terhadap keadaan politik yang tampak menguasai suasana, terutama setelah bebasnya Austria dan Prusia dari kekuasaan Napoleon. Para sastrawan muda Jerman berjuang melawan kekuasaan negara ini guna memperoleh kebebasan, baik dalam agama maupun politik. Menurut pendapat mereka, sastra harus menjadi senjata dalam perjuangan untuk memperoleh kebebasan. Sastra harus membahas masalah aktual dalam memperjuangkan masa depan yang lebih baik. Pelopor aliran ini Henrich Heine.

2) Biedermeier, sastra yang menjauhkan diri dari kehidupan sehari-hari dan dari hal-hal yang bersifat aktual. Sifat khasnya ialah menjauhkan diri dari kehidupan politik yang suasananya kadang-kadang diliputi kecemasan dan hasrat untuk hidup tertib dan sederhana. Pelopornya ialah dua sastrawan dari Austria, Grillparzer dan Stifter.

H. POETISCHER REALISMUS (1850-1890)

Aliran ini merupakan ungkapan rasa kebanggaan yang kuat, setelah penyatuan negara Jerman oleh Biscmarck (1871), yang kemudian meningkat menjadi kebanggaan nasional.

1) Kehidupan Rohani, dalam kehidupan rohani tampak jelas penolakan terhadap idealis zaman Goethe. Filsafat berkaitan erat dengan ilmu pengetahuan alam dan secara sadar membatasi diri pada yang nyata, yang positif. Cita-cita hidup susila zaman ini bersifat khas kenyataan, yaitu kenikmatan hidup, kegiatan kerja dan kejujuran.

2) Sastra, pada zaman ini melukiskan kehidupan masyarakat tersebut, yang disebut Poetischer Realismus. Sastrawan pendukungnya tidak merupakan kelompok yang bulat dan tidak memiliki kerangka seni yang didukung pandangan hidup yang sama. Hanya satu persamaan diantara mereka yaitu dalam hal menghayati kenyataan, baik lahir dan batin, dan kegemaran melukiskan kenyataan sampai hal-hal yang kecil dan ringan mengalami perkembangan yang tinggi

I. NATURALISMUS und IMPRESSIONISMUS

1) Naturalismus

Aliran sastra yang meliputi seluruh Eropa, yang disebabkan oleh dua hal, Pertama, dimana-mana di Eropa Sastar pada abad ke-19 menunjukkan perkembangan kea rah seni yang ingin mendekati kenyataan dan yang mencapai puncaknya dalam Naturalisme. Kedua, pendapat orang mengenai kehidupan dan manusia karena perkembangan ilmu pengetahuan zaman itu tersalurkan kearah yang sama. Sifat khas para sastrawannya ialah bahwa dalam karya mereka tidak pernah ada penghukuman terhadap kejahatan, melainkan hanya pemnjelasan mengapa karena keturunan dan lingkungan seorang took harus mnjadai penjahat. Sebagian besar dari mereka lebih gemar melukiskan masyarakat lapisan terbawah, oleh karena itu keburukan social sangat menonjol.

2) Impressionismus

Mengungkapkan kesan-kesan yang diperoleh dari kenyataan. Mereka berpendapat bahwa subjektivitas setiap seniman terlepas dari pengungkapan secara objektif kenyataan. Mereka hanyan ingin mengungkapkan kesan-kesan yang mereka peroleh dari kenyataan setepat mungkin dan mencatat kesan-kesan berdasarkan pendengaran dan penglihatan secermat-cermatnya. Semua ragam warna, gerakan, dan suara diungkapkan dengan kata-kata yang setepat-tepatnya.

J. NEUROMANTIK UND NEUKLASIK

1) Neuromantik

Neuromantik merupakan aliran yang memiliki banyak persamaan, yang para sastrawan terkemuka pada waktu itu mencoba mencari ideal sastra yang baru. Cita-cita yang terpancar dari aliran ini ialah kebutuhan baru akan sesuatu yang bersifat metafisik, yaitu membahas persoalan apa guna hidup dan mati, dan rasa rindu kepada alam impian yang indah. Kaum neuromantik memuja hidup sebagai suatu rahasia yang mengandung banyak arti dan makna.

Bahasa mereka bukan lagi bahasa sehari-hari, melainkan bahasa seni yang bermusik dan halus. Prosa dan syairnya bersifat lembut, seolah-olah berada dalam impian dan penuh rasa sedih. Seringkali bersifat kurang jelas dan penuh rahasia karena ingin menciptakan suatu tertentu atau ingin menggambarkan sesuatu yang absrak.

Tokoh-tokoh Neuromantik Jerman terpenting ialah Stefan George, Hugo von Hofmannsthall, Reiner Maria, Ricarda Huch, Hans Carossa, dll.

2) Neuklasik

Yang terkandung dalam pengertian “Klassik” adalah keserasian (harmoni) batin dan kematangan sebagai manusia yang biasanya baru tercapai pada usia lanjut.

Jumlah kelompok Neuklassik pun kecil dan dianggap sebagai aliran bawah yang tidak pernah menjangkau suatu generasi. Kelompok sastrawan ini mempunyai kesamaan dalam mengalami sastra Klassik, baik Yunani, Romawi, atau Jerman, dan mereka sangat keras dalam hal bentuk, yang sering dipengaruhi oleh klasik Romawi. Kekuatan yang mereka cari adalah kecermatan daya ungkap dan pengolahan terhadap hal-hal yang hakiki. Yang termasuk dalam kelompok ini adalah Paul Ernst, Wilhelm Schaefer, Rudolf Binding.

K. EXPRESIONISMUS

xpresionismus merupakan aliran sastra yang menguasai Jerman pada tahun 1910 sampai 1930 dan mengesangkan hakikat benda itu. Yang ingin ditonjolkan bukan kulit yang tidak penting, melaingkan intinya, hakikatnya.

Mereka memproyeksikan getaran jiwa pribadi pada gejala dunia luar itu, sehingga manusia dan kehidupan jiwanya menjadi pusat perhatian seni.

· Seni Lukis, para seniman pada zaman ini menganggap semua benda di dunia adalah berjiwa, yang pada hakikatnya adalah jiwa mereka sendiri, yang telah dianggapnya telah ditemukan kembali dalam benda-benda itu.

· Kesusatraan, para sastrawan mengumandangkan dengan penih semangat cita-cita kemanusiaan baru dan masyarakat yang harus memmberlakukan keadilan sosial dan kegairahan kerja lebih besar bagi pekerja.

· Lirik, bahasa ekspresionis jauh berbeda dari bahasa yan selama waktu itu dipakai dalam karya sastra, bentuk lirik sangat bebas, ekstase dan perasaan ditampilkan secara leluasa; kata-kata muluk seperti hakikat, alam semesta, dunia, alam kosmik dihambur-hamburkan; teriakan, jeritan, dsb, sebagai luapan perasaan hampir tak dapat diungkapkan dengan kata-kata.

· Drama, bentuk ini digunakan untuk membicarakan masalah-masalah dalam hidup. Orang tidak ditampilkan sebagai tokoh individual melainkan sebagai wakil suatu gagasan dan dilukiskansebagai wakil suatu jenis atau golongan.

· Tokoh-Tokohnya, Tokoh Lirik terpenting ialah Frans Werfel, Georg Heym, August Stramm, Tokoh Drama terbesar Jerman adalah Walter Hasenclever.

L. NEUE SACHLICHKEIT

Neue Sachlichkeit (Keobyektifan Baru) adalah istilah yang dipakai oleh ilmu kesusastraan untuk menyimpulkan ciri khas dalam karya kebanyakan pengarang antinazi.

Dalam karya mereka itu jelas berbeda dengan hasil aliran ekspresionistis, impresionistis atau simbolistis. Dalam puisi dapat dibedakan tiga jenis. Pertama: puisi yang obyektif, berbahasa sederhana dan politis, misalnya dari Brecht dan Tucholsky. Kedua: puisi alam dari aliran Naturmagie (Magi alam) yang bertema alam yang diatur oleh sesuatu yang transenden, misalnya dari Huchel dan Loerke. Ketiga: puisi yang konservatif seperti dari Carossa

Merupakan segolongan sastrawan diakhir tahun 1920-an yang menolak suatu karya semi demean peaking kite yang berlebihan dan gaya yang penuh perasaan, serta menganggap semua itu sebagai hal yang hampa. Seni dari aliran ini bertolak belakang dengan aliran Ekspresionisme. Aliran ini menghendaki pelukisan kenyataan yan harus bebas dari perasaan sehingga menimbulkan sesuatu yang baru.

Tokoh-tokohnya adalah Erich Kastner dan Bertold Brecht dengan karyanya Dreigroschenoper (1982) dan Lindbergh Flug (1928).

Erich Kaestner (1898-1956)

Ia melihat dan menggambarkan dunia secara nyata , sadar dan sering sinis. Yang menjadikannya sangat terkenal ialah cerita-ceritanya seperti Emil und die Detektive, drei Manner im Schnee dan Die Verschwundene Miniatur. Buku-buku ini diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dan di semua negara Eropa menjadi buku bacaan dalam pengajaran bahasa Jerman. Kaestner bukan sastrawan besar , namun karena bernada baru ia justru menjadi tokoh penting.

Bertold Brecht (1898-1956)

Brecht sebelum perang dunia II dalam karya-karyanya menempuh jalan baru dalam kesusatraan. Ia melukisakan kehidupan golongan penentang kekuasaan Hittler yang penuh siksaan, sangat memukul dan pedas, namun tanpa dilebih-lebihkan.

Selama PD2di Amerika ia menghasilkan banyak cerita untuk radio yang sebagaian besar temanya bersumber pada masalah politik.

M. NEUE HEIMATKUNST

Tokoh-Tokohnya antara lain Renst Wichert, fdriderich Griese dan Josef Ponten, yang satu sama lain memperlihatkan perbedaan tidak kecil. Friedrich Giese lahir tahun 1890 yanmg cerita dan romannya sangat terikat pada kampong halamannya., Mecklenburg melukiskan tipe petani Jerman Utara yang tanpa banyak bicara menunjukkan tugas pekerjaan dan kewajiban kemanusiaan mereka penuh tanggung jawab.Josef Ponten karyanya menruh 00nat besar terhadap arsitektur, pemandangan alam asing dan geoilogi, meskipun terhadap kehidupan pedesaan ia dapat mengungkapknnya dengan baik. Dalam cerpennya khusunya adegan yang meneganggkan ia sangat pandai mengungkapkan dengan kata dan dialog yang singkat namun mengasyikkan.

N. ZAMAN NAZI

Kesusatraan Jerman pada zaman kekuasaan Hitler mengalami kesulitan dalam hubungannya dengan rezim ini. Reazim ini demikian mencekam perikehidupan zaman itu hingga kaum sasterawan terpecah menjadi dua golongan. Tahun yang sangat menentukan adalah 1983, ketika Hitler mulai berkuasa. Banyak diantara mereka tetap tinggal di Jermankarena mereka menaruh simpati tertentu terhadap kekuasaan baru itu atau ada juga yang tidak menaruh simpati terhadapnya, menantikan berakhirnya kekuasaaan Hitler disampin tetapa mmelihara hubungan dengan dunia pembaca Jerman. Namun, tidak sedikit pula yang meninggalkan tanah airkarena berdarah, yahudi atau karena menntang poitik baru.

Dianntara yang tetap di Jerman dapat disebut beberapa nama orang terkemuka seperti FGriedrich Griese dan Hans Grimm. Sedangkan yang meninggalkan tanah air di antarannya adalah Stefan Zweig dan Frans Werfel dan Thomas Mann. Mereka mengeluarkan karya-karyannya diluar negeri, sedangkan di jerman sendiri dilarang.

Tahun 1933, waktu kekuasaan direbut oleh Hitler, membawa perubahan yang besar untuk banyak pengarang. Kebebasan mencipta dihilangkan oleh rezim Nazi, dan banyak pengarang, misalnya Thomas Mann dan Bertolt Brecht, beremigrasi ke luar negeri. Dari situ mereka berjuang melawan Hitler melalui karya-karyanya. Ada pula pengarang yang menolak naziisme, tapi tetap tinggal di

Jerman dan terpaksa berhati-hati dalam melontarkan kritiknya atau tidak terlalu menggubris keadaan di sekelilingnya. Tetapi ada juga yang malahan mendukung ideologi dan pemerintah Nazi.

O. SETELAH PERANG DUNIA KE II

Selesainya Perang Dunia Kedua pada tahun 1945, jatuhnya diktator Nazi, dan hancurnya seluruh Jerman, pertama-tama dianggap oleh angkatan pengarang muda sebagai permulaan baru untuk sastera Jerman. Tapi dengan kembalinya pengarang yang beremigrasi di zaman Nazi ke Jerman ternyata pula bahwa tradisi-tradisi lama dibawa, diteruskan dan diwariskan mereka itu kepada pengarang-pengarang muda. Yang benar-benar merupakan kenyataan yang baru adalah berdirinya dua negara Jerman sejak tahun 1949.

Karena banyaknya corak dan ragam karya sastera yang sedikit demi sedikit nampak di Jerman, maka tidak mungkin lagi kesusatraan Jerman dibagi menurut aliran, ajaran atau kelompok. Bahklan tidak mungkin pula menurut pembagian tradisional dalam epik, lirik, dramatik, karena seringkali batasan-batasannya tidak tampak.

Perkembangan kesusastraan di Jerman-Barat dan Jerman-Timur sangat berbeda. Doktrin yang dominan di Jerman-Timur yang komunis itu adalah realisme sosialistis yang tidak memberi kebebasan kepada seniman. Ini menyebabkan sastra Jerman-Timur agak monoton dan tidak seanekaragam sastra di Jerman-Barat, Austria dan Swiss. Ternyata juga bahwa banyak pengarang Jerman-Timur tidak betah hidup di negara komunis itu dan pindah ke Jerman-Barat ataupun diungsikan karena mengeritik keadaan dalam negara komunis itu. Misalnya Huchel, Kirsch, Biermann, Kunert dan Kunze, yang sajaknya kami muatkan dalam antologi ini. Dengan penyatuan Jerman pada tahun 1990 sastra Jerman-Timur (dan Barat!) tinggal sejarah dan penyair-penyair Jerman dapat lagi mencipta dalam tanah air yang bersatu.

Namun, berdasarkan perkembanganya , dapat dilaihat dalam tiga tahapan berikut ini:

Tahap Pertama ditandai dengan pembahasan pengalaman selama dan sesudah perang Dunia. Tahun 1947-1952/1955 muncul generasi sastera pertama. Pada periode ini ditampilkan sejenis sastera yang seolah-olah menginventarisasikan karya-karya yang ada dan yang judulnya jelas menunjukkan keadaan pada waktu itu.

Tema-temanya meliputi laporan dokumenter mengenai zaman Nazi, tentang perang beserta akibatnya, tentang membenarkan tindakan tertentu, menyalahkan diri-sendiri dan putus asa, sampai pada dosa yang tidak dapat ditebus terhadap bangsa Yunani. Dibalik bentuk-bentuk ungkapan ini terdapat satu tujuan, yaitu penolakan mutlak terhadap masa lampau. Kira-kira tahun 1950-1952 ”sastera inventarisasi ini diganti oleh cara menulis sastera yang berpangkal tolak sama, yang mempertimbangkan juga malapetaka dan kekejian, namun disampiung penolakan mengandung pula harapan.

Sikap-sikap yang timbul pada tahap pertama, tidak lagi muncul pada tahap kedua yang berlangsung pada tahun 1952-1965. Sasterawan yang termasuk pada generasi ini diantaranya Ingeborg Bachman, Herbert Eisenreich, Hans Magnus Enzensberger. Yang menentukan tahap sastera ini ialah keadaan yang bersifat sementara, ketidakpastian satu pihak, kritik yang tegas, dan rasa tidak senang terhadap kaum yang berada pada pihak lain. Tema lain yang diungkapkan ialah keadaan sosial dan politik negara Jerman yang terpecah dua, serta kritik terhadap masyarakat dan ideologi. Generasi sastera kedua ini tidak memiliki identitas norma maupun ideologi. Ciri khas sastera tahap ini ialah berusaha bereksperimen dengan alat biasa, dengan gaya biasa, dengan gaya bahasa dan isi. Teknik yang sering digunakan ialah deformasi sampai gaya bahasa yang muluk yang lucu (Grass), parodi dan bahan asing.

(B.J. Gunawwan)

Generasi Muda dan Generasi Tua

<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:”Monotype Corsiva”; panose-1:3 1 1 1 1 2 1 1 1 1; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:script; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:””; margin:0in; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} @page Section1 {size:8.5in 11.0in; margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; mso-header-margin:.5in; mso-footer-margin:.5in; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin:0in;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}

Generas Muda dan Generasi Tua

Siklus kehidupan terus bergerak menapaki bergulirnya waktu. Setiap langkah menyisakan jejak yang tak akan bisa terhapus. Berada dalam kebekuannya dalam rongga kenangan. Bila kita menengok ke belakang, kita akan menemukan sebuah jurang yang membentang memisahkan masa lalu dengan masa kini. Masa lalu tidak mati di satu titik. Namun, masa lalu akan selalu bergerak menuju ke-‘kini’-an dan selanjutnya, ke-‘kini’-an akan memasuki masa depan. Terus-menerus melaju seiring dengan perputaran musim yang melintasi bumi.

Dengan adanya bentang jurang itu, apa yang dialami generasi orang tua kita tentu berbeda dengan generasi muda sekarang. Perbedaan itu dipengaruhi oleh pergeseran nilai-nilai (value) yang eksis di dalam masyarakat. Nilai selalu bergerak dinamis sesuai dengan perkembangan zaman. Dan pergeseran itu bukanlah tanpa sebab. Faktor eksternal dan internal dalam suatu masyarakat turut memengaruhi kedinamisan nilai.

Sebut saja contoh yang paling menonjol dalam perbedaan antara generasi orang tua kita dengan generasi muda sekarang adalah begitu deras dan terbukanya arus informasi yang memenuhi tiap ruang keseharian kita sekarang ini. Bila dibandingkan dengan generasi orang tua kita, tentu saja berbeda jauh. Dan hal ini tentunya mempengaruhi pola pikir kedua generasi tersebut. Sekarang ini, batas-batas wilayah pun mulai luluh. Ruang geografi suatu negara memang tidak berubah. Tetapi, secara sosial dan kultural, dunia telah bercampur baur dalam suatu keterbukaan tanpa batas. Inilah yang sering digaungkan dengan istilah ‘era globalisasi’

Tsunami informasi yang semakin menggelombang ini pun turut didukung dengan kemajuan teknologi. Kita sudah tidak perlu lagi repot-repot mencari berita atau artikel yang lampau dengan mengobrak-abrik tumpukan Koran yang telah menguning dimakan waktu. Cukup dengan menggunakan search engine google, semuanya bisa diatasi. Berbagai media cetak dan elektronik pun semakin berlomba-lomba menyuguhkan informasi yang  fresh from the oven.

Hadirin sekalian,

Peralihan waktu menyebabkan adanya perbedaan generasi, yang terkadang menimbulkan ketimpangan. Perbedaan?? Begitu banyak perbedaan diantara generasi orang tua dengan generasi muda (generasi para remaja saat ini). Seperti, perbedaan dalam selera, fasion, pemikiran, bertutur kata, gaya hidup, bahkan sampai hal kecil. Dulu, generasi orang tua kita belum mencapai tingkat era globalisasi yang menguapkan kemodernan sehingga pola pikir mereka cenderung masih menganut nilai tradisional yang sudah melekat turun-temurun. Meskipun tidak tertutup kemungkinan adanya generasi orang tua yang tidak ketinggalan mengikuti perkembangan modernisasi. Hal inilah yang mungkin membuat banyak remaja melabelkan dirinya ‘open minded’ karena keterbukaan dan kemudahan mereka menerima segala perubahan yang terjadi dibandingkan dengan generasi orang tua mereka dulu yang cenderung lebih ‘tradisional’.

Siapa yang salah? Sebenarnya dalam hal ini, kedua belah pihak tidak melakukan kesalahan karena pada hakekatnya, kedua generasi ini berbeda. Berbeda zaman, berbeda pula cara bepikirnya karena dalam setiap pergerakan zaman, ada nilai-nilai baru yang muncul dan ada nilai-nilai lama yang secara tidak sadar hilang akibat adanya nilai-nilai yang baru.

Orang tua yang tidak cepat beradaptasi dengan zaman, bisa dibilang “kolot” karena cara berpikirnya yang konservatif. Tetapi remaja yang menerima mentah-mentah perkembangan zaman pun juga berefek tidak baik bagi diri dan orang tuanya. Remaja cenderung merasa bahwa dirinya yang paling benar dan orangtua pun dianggap tidak mengerti karena sudah tertinggal oleh zaman. Begitu juga orang tua. Orang tua biasanya merasa bahwa mereka lebih banyak makan asam garam dalam kehidupan, sehingga mereka merasa yang paling benar. Ternyata, antara anak dan orangtua yang tidak mampu beradaptasi, memiliki kesamaan bahwa mereka sama-sama merasa paling benar. Akan tetapi perbedaan yang paling menonjol dari semua hal tersebut adalah gaya hidup dan pemikiran.

Pertama adalah gaya hidup, secara sederhana gaya hidup adalah pola tingkah laku atau pola berinteraksi seseorang dengan orang lain. Di setiap generasi, gaya hidup manusia pastilah berubah yang disebabkan berbagai macam faktor seperti, faktor ekonomi negara, teknologi, maupun sosial bermasyarakat. Sama halnya dengan generasi orang tua dan generasi muda saat ini. Dahulu generasi orang tua belajar hidup lebih “Sederhana” dan “Tidak konsumtif” terhadap barang. Hal tersebut disebabkan ekonomi yang masih dalam pemulihan setelah penjajahan hingga stabil, teknologi yang belum berkembang, atau pun sosialisasi masyarakat yang berbeda dengan masa kini. Sedangkan generasi muda yang lebih bersifat “Mahal” dan “Konsumtif”. Teknologi yang berkembang luar biasa pesat saat ini merupakan faktor utama pemicu gaya hidup generasi muda.

Kedua adalah pemikiran. Bila kita belajar dari masa lalu sejarah negara Indonesia, dimana golongan tua dan golongan muda berselisih menentukan waktu proklamasi kemerdekaan. Golongan tua lebih bersifat berhati-hati, bersabar, melihat situasi terlebih dahulu dan tidak tergesa-gesa mengambil keputusan. Berbeda dengan golongan muda yang penuh gairah dan semangat berapi-api, ingin segera memproklamasikan kemerdekaan. Perbedaan pemikiran tersebut tidak jauh berbeda dengan generasi orang tua dan generasi muda saat ini. Generasi orang tua yang penuh pengalaman hidup berfikir lebih berhati-hati serta penuh perhitungan sedangkan generasi muda yang dengan semangat dan rasa ingin tau untuk mencoba segala hal hingga terkadang tidak mempedulikan resiko ke depan.

Rekan-rekan yang berbahagia,

Perbedaan bukanlah suatu alasan untuk memulai perselisihan. Dengan perbedaan setiap generasi bisa saling belajar gaya hidup masing-masing dan saling mengingatkan bila ada gaya hidup yang lebih merugikan.Dengan perbedaan pun golongan tua dan golongan muda tetap memiliki tujuan yang sama yaitu kemerdekaan negara yang kini sudah berpuluh-puluh tahun kita rasakan. Generasi muda pun tak bisa menghilangkan peran orang tua dalam kehidupan mereka. Perbedaan itu adalah nikmat yang di berikan oleh Tuhan dan tersebut tentunya ada beberapa hal yang bisa kita pelajari dari orang tua kita dulu yaitu sopan santun dan tata krama kita terhadap orang yang lebih tua. Karena tanpa itu semua orang-orang pasti akan kurang menghargai pendapat dari kita. Jadi, mulai sekarang sepertinya kita tidak usah takut dan ragu lagi untuk ikut serta mengapresiasikan bakat dan kreativitas yang ada di dalam diri kita. So everybody, go and make it happen!

Kehidupan modernisasi sekarang ini mengharuskan kita sebagai generasi muda bersikap respek dan menyadari impact yang ditimbulkan. Tentu saja, modernisasi tidak hanya sekedar hidup berbasis remote control. Perlu dicatat, modernisasi menuntut para remaja untuk mempunyai kompetensi dan berdaya saing tinggi. Sebab bila tidak,

kita bisa tenggelam dengan mudah dalam gencarnya globalisasi karena tidak bisa berkompetensi dengan dunia asing. Dan dalam hal ini peran serta generasi sebelumnya sangatlah penting dan menjadi pengingat ketika kita terlelap dalam kemegahan Perbedaan yang terjadi dari berbagai aspek, seyogyanya dapat diselesaikan dengan komunikasi dua arah yang baik dan keinginan untuk beradaptasi dan mau mendengar satu sama lain.

Demikian pidato singkat yang dapat saya kemukakan dihadapan Anda semua, mudah-mudahan bisa menjadi sumber informasi dan membawa manfaat buat kita semua untuk menelusuri teka-teki kehidupan dimasa mendatang. Saya akhiri dengan ucapan………………………………………………………………………………………

Wasalamu Alaikum Wr. Wb (von Deutsch_On3, dubas 08)

Cara Cepat Menyusun Skripsi


st1\:*{behavior:url(#ieooui) }
<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:Wingdings; panose-1:5 0 0 0 0 0 0 0 0 0; mso-font-charset:2; mso-generic-font-family:auto; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:0 268435456 0 0 -2147483648 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:””; margin:0in; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} h2 {mso-style-next:Normal; margin-top:12.0pt; margin-right:0in; margin-bottom:3.0pt; margin-left:0in; mso-pagination:widow-orphan; page-break-after:avoid; mso-outline-level:2; font-size:14.0pt; font-family:Arial; font-weight:bold; font-style:italic;} h3 {mso-margin-top-alt:auto; margin-right:0in; mso-margin-bottom-alt:auto; margin-left:0in; mso-pagination:widow-orphan; mso-outline-level:3; font-size:13.5pt; font-family:”Times New Roman”; font-weight:bold;} a:link, span.MsoHyperlink {color:blue; text-decoration:underline; text-underline:single;} a:visited, span.MsoHyperlinkFollowed {color:purple; text-decoration:underline; text-underline:single;} p {mso-margin-top-alt:auto; margin-right:0in; mso-margin-bottom-alt:auto; margin-left:0in; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} span.highlight {mso-style-name:highlight;} @page Section1 {size:8.5in 11.0in; margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; mso-header-margin:.5in; mso-footer-margin:.5in; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} /* List Definitions */ @list l0 {mso-list-id:706442989; mso-list-template-ids:1214940312;} @list l0:level1 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:; mso-level-tab-stop:.5in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in; mso-ansi-font-size:10.0pt; font-family:Symbol;} @list l1 {mso-list-id:749886732; mso-list-template-ids:-1236223618;} @list l1:level1 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:; mso-level-tab-stop:.5in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in; mso-ansi-font-size:10.0pt; font-family:Symbol;} ol {margin-bottom:0in;} ul {margin-bottom:0in;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin:0in;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), skripsi diartikan sebagai karangan ilmiah yang diwajibkan sebagai bagian dari persyaratan pendidikan akademis. Buat sebagian mahasiswa, skripsi adalah sesuatu yang lumrah. Tetapi buat sebagian mahasiswa yang lain, skripsi bisa jadi momok yang terus menghantui dan menjadi mimpi buruk. Banyak juga yang berujar “lebih baik sakit gigi daripada bikin skripsi”.

Saya juga sering mendapat kiriman pertanyaan tentang bagaimana menyusun skripsi dengan baik dan benar. Ada juga beberapa yang menanyakan masalah teknis tertentu dengan skripsinya. Karena keterbatasan waktu, lebih baik saya jawab saja secara berjamaah di sini. Sekalian supaya bisa disimak oleh audiens yang lain.

Karena target pembacanya cukup luas dan tidak spesifik, maka tulisan ini akan lebih memaparkan tentang konsep dan prinsip dasar. Tulisan ini tidak akan menjelaskan terlalu jauh tentang aspek teknis skripsi/penelitian. Jadi, jangan menanyakan saya soal cara menyiasati internal validity, tips meningkatakan response rate, cara-cara dalam pengujian statistik, bagaimana melakukan interpretasi hasil, dan seterusnya. Itu adalah tugas pembimbing Anda. Bukan tugas saya.

Apa itu Skripsi

Saya yakin (hampir) semua orang sudah tahu apa itu skripsi. Seperti sudah dituliskan di atas, skripsi adalah salah satu syarat yang harus dipenuhi sebagai bagian untuk mendapatkan gelar sarjana (S1). Skripsi inilah yang juga menjadi salah satu pembeda antara jenjang pendidikan sarjana (S1) dan diploma (D3).

Ada beberapa syarat yang musti dipenuhi sebelum seorang mahasiswa bisa menulis skripsi. Tiap universitas/fakultas memang mempunyai kebijakan tersendiri, tetapi umumnya persyaratan yang harus dipenuhi hampir sama. Misalnya, mahasiswa harus sudah memenuhi sejumlah SKS, tidak boleh ada nilai D atau E, IP Kumulatif semester tersebut minimal 2.00, dan seterusnya. Anda mungkin saat ini belum “berhak” untuk menulis skripsi, akan tetapi tidak ada salahnya untuk mempersiapkan segalanya sejak awal.

Skripsi tersebut akan ditulis dan direvisi hingga mendapat persetujuan dosen pembimbing. Setelah itu, Anda harus mempertahankan skripsi Anda di hadapan penguji dalam ujian skripsi nantinya. Nilai Anda bisa bervariasi, dan terkadang, bisa saja Anda harus mengulang skripsi Anda (tidak lulus).

Skripsi juga berbeda dari tesis (S2) dan disertasi (S3). Untuk disertasi, mahasiswa S3 memang diharuskan untuk menemukan dan menjelaskan teori baru. Sementara untuk tesis, mahasiswa bisa menemukan teori baru atau memverikasi teori yang sudah ada dan menjelaskan dengan teori yang sudah ada. Sementara untuk mahasiswa S1, skripsi adalah “belajar meneliti”.

Jadi, skripsi memang perlu disiapkan secara serius. Akan tetapi, juga nggak perlu disikapi sebagai mimpi buruk atau beban yang maha berat.

Miskonsepsi tentang Skripsi

Banyak mahasiswa yang merasa bahwa skripsi hanya “ditujukan” untuk mahasiswa-mahasiswa dengan kecerdasan di atas rata-rata. Menurut saya pribadi, penulisan skripsi adalah kombinasi antara kemauan, kerja keras, dan relationships yang baik. Kesuksesan dalam menulis skripsi tidak selalu sejalan dengan tingkat kepintaran atau tinggi/rendahnya IPK mahasiswa yang bersangkutan. Seringkali terjadi mahasiswa dengan kecerdasan rata-rata air lebih cepat menyelesaikan skripsinya daripada mahasiswa yang di atas rata-rata.

Masalah yang juga sering terjadi adalah seringkali mahasiswa datang berbicara ngalor ngidul dan membawa topik skripsi yang terlalu muluk. Padahal, untuk tataran mahasiswa S1, skripsi sejatinya adalah belajar melakukan penelitian dan menyusun laporan menurut kaidah keilmiahan yang baku. Skripsi bukan untuk menemukan teori baru atau memberikan kontribusi ilmiah. Karenanya, untuk mahasiswa S1 sebenarnya replikasi adalah sudah cukup.

Hal lain yang juga perlu diperhatikan adalah bahwa penelitian, secara umum, terbagi dalam dua pendekatan yang berbeda: pendekatan saintifik dan pendekatan naturalis. Pendekatan saintifik (scientific approach) biasanya mempunyai struktur teori yang jelas, ada pengujian kuantitif (statistik), dan juga menolak grounded theory. Sebaliknya, pendekatan naturalis (naturalist approach) umumnya tidak menggunakan struktur karena bertujuan untuk menemukan teori, hipotesis dijelaskan hanya secara implisit, lebih banyak menggunakan metode eksploratori, dan sejalan dengan grounded theory.

Mana yang lebih baik antara kedua pendekatan tersebut? Sama saja. Pendekatan satu dengan pendekatan lain bersifat saling melengkapi satu sama lain (komplementer). Jadi, tidak perlu minder jika Anda mengacu pada pendekatan yang satu, sementara teman Anda menggunakan pendekatan yang lain. Juga, tidak perlu kuatir jika menggunakan pendekatan tertentu akan menghasilkan nilai yang lebih baik/buruk daripada menggunakan pendekatan yang lain.

Hal-hal yang Perlu Dilakukan

Siapkan Diri. Hal pertama yang wajib dilakukan adalah persiapan dari diri Anda sendiri. Niatkan kepada Tuhan bahwa Anda ingin menulis skripsi. Persiapkan segalanya dengan baik. Lakukan dengan penuh kesungguhan dan harus ada kesediaan untuk menghadapi tantangan/hambatan seberat apapun.

Minta Doa Restu. Saya percaya bahwa doa restu orang tua adalah tiada duanya. Kalau Anda tinggal bersama orang tua, mintalah pengertian kepada mereka dan anggota keluarga lainnya bahwa selama beberapa waktu ke depan Anda akan konsentrasi untuk menulis skripsi. Kalau Anda tinggal di kos, minta pengertian dengan teman-teman lain. Jangan lupa juga untuk membuat komitmen dengan pacar. Berantem dengan pacar (walau sepele) bisa menjatuhkan semangat untuk menyelesaikan skripsi.

Buat Time Table. Ini penting agar penulisan skripsi tidak telalu time-consuming. Buat planning yang jelas mengenai kapan Anda mencari referensi, kapan Anda harus mendapatkan judul, kapan Anda melakukan bimbingan/konsultasi, juga target waktu kapan skripsi harus sudah benar-benar selesai.

Berdayakan Internet. Internet memang membuat kita lebih produktif. Manfaatkan untuk mencari referensi secara cepat dan tepat untuk mendukung skripsi Anda. Bahan-bahan aktual bisa ditemukan lewat Google Scholar atau melalui provider-provider komersial seperti EBSCO atau ProQuest.

Jadilah Proaktif. Dosen pembimbing memang “bertugas” membimbing Anda. Akan tetapi, Anda tidak selalu bisa menggantungkan segalanya pada dosen pembimbing. Selalu bersikaplah proaktif. Mulai dari mencari topik, mengumpulkan bahan, “mengejar” untuk bimbingan, dan seterusnya.

Be Flexible. Skripsi mempunyai tingkat “ketidakpastian” tinggi. Bisa saja skripsi anda sudah setengah jalan tetapi dosen pembimbing meminta Anda untuk mengganti topik. Tidak jarang dosen Anda tiba-tiba membatalkan janji untuk bimbingan pada waktu yang sudah disepakati sebelumnya. Terkadang Anda merasa bahwa kesimpulan/penelitian Anda sudah benar, tetapi dosen Anda merasa sebaliknya. Jadi, tetaplah fleksibel dan tidak usah merasa sakit hati dengan hal-hal yang demikian itu.

Jujur. Sebaiknya jangan menggunakan jasa “pihak ketiga” yang akan membantu membuatkan skripsi untuk Anda atau menolong dalam mengolah data. Skripsi adalah buah tangan Anda sendiri. Kalau dalam perjalanannya Anda benar-benar tidak tahu atau menghadapi kesulitan besar, sampaikan saja kepada dosen pembimbing Anda. Kalau disampaikan dengan tulus, pastilah dengan senang hati ia akan membantu Anda.

Siapkan Duit. Skripsi jelas menghabiskan dana yang cukup lumayan (dengan asumsi tidak ada sponsorships). Mulai dari akses internet, biaya cetak mencetak, ongkos kirim kuesioner, ongkos untuk membeli suvenir bagi responden penelitian, biaya transportasi menuju tempat responden, dan sebagainya. Jangan sampai penulisan skripsi macet hanya karena kehabisan dana. Ironis kan?

Tahap-tahap Persiapan

Kalau Anda beruntung, bisa saja dosen pembimbing sudah memiliki topik dan menawarkan judul skripsi ke Anda. Biasanya, dalam hal ini dosen pembimbing sedang terlibat dalam proyek penelitian dan Anda akan “ditarik” masuk ke dalamnya. Kalau sudah begini, penulisan skripsi jauh lebih mudah dan (dijamin) lancar karena segalanya akan dibantu dan disiapkan oleh dosen pembimbing.

Sayangnya, kebanyakan mahasiswa tidak memiliki keberuntungan semacam itu. Mayoritas mahasiswa, seperti ditulis sebelumnya, harus bersikap proaktif sedari awal. Jadi, persiapan sedari awal adalah sesuatu yang mutlak diperlukan.

Idealnya, skripsi disiapkan satu-dua semester sebelum waktu terjadwal. Satu semester tersebut bisa dilakukan untuk mencari referensi, mengumpulkan bahan, memilih topik dan alternatif topik, hingga menyusun proposal dan melakukan bimbingan informal.

Dalam mencari referensi/bahan acuan, pilih jurnal/paper yang mengandung unsur kekinian dan diterbitkan oleh jurnal yang terakreditasi. Jurnal-jurnal top berbahasa asing juga bisa menjadi pilihan. Kalau Anda mereplikasi jurnal/paper yang berkelas, maka bisa dipastikan skripsi Anda pun akan cukup berkualitas.

Unsur kekinian juga perlu diperhatikan. Pertama, topik-topik baru lebih disukai dan lebih menarik, bahkan bagi dosen pembimbing/penguji. Kalau Anda mereplikasi topik-topik lawas, penguji biasanya sudah “hafal di luar kepala” sehingga akan sangat mudah untuk menjatuhkan Anda pada ujian skripsi nantinya.

Kedua, jurnal/paper yang terbit dalam waktu 10 tahun terakhir, biasanya mengacu pada referensi yang terbit 5-10 tahun sebelumnya. Percayalah bahwa mencari dan menelusur referensi yang terbit tahun sepuluh-dua puluh tahun terakhir jauh lebih mudah daripada melacak referensi yang bertahun 1970-1980.

Salah satu tahap persiapan yang penting adalah penulisan proposal. Tentu saja proposal tidak selalu harus ditulis secara “baku”. Bisa saja ditulis secara garis besar (pointer) saja untuk direvisi kemudian. Proposal ini akan menjadi guidance Anda selama penulisan skripsi agar tidak terlalu keluar jalur nantinya. Proposal juga bisa menjadi alat bantu yang akan digunakan ketika Anda mengajukan topik/judul kepada dosen pembimbing Anda. Proposal yang bagus bisa menjadi indikator yang baik bahwa Anda adalah mahasiswa yang serius dan benar-benar berkomitmen untuk menyelesaikan skripsi dengan baik.

Kiat Memilih Dosen Pembimbing

Dosen pembimbing (academic advisor) adalah vital karena nasib Anda benar-benar berada di tangannya. Memang benar bahwa dosen pembimbing bertugas mendampingi Anda selama penulisan skripsi. Akan tetapi, pada prakteknya ada dosen pembimbing yang “benar-benar membimbing” skripsi Anda dengan intens. Ada pula yang membimbing Anda dengan “melepas” dan memberi Anda kebebasan. Mempelajari dan menyesuaikan diri dengan dosen pembimbing adalah salah satu elemen penting yang mendukung kesuksesan Anda dalam menyusun skripsi.

Tiap universitas/fakultas mempunyai kebijakan tersendiri soal dosen pembimbing ini. Anda bisa memilih sendiri dosen pembimbing yang Anda inginkan. Tapi ada juga universitas/fakultas yang memilihkan dosen pembimbing buat Anda. Tentu saja lebih “enak” kalau Anda bisa memilih sendiri dosen pembimbing untuk skripsi Anda.

Lalu, bagaimana memilih dosen pembimbing yang benar-benar tepat?

Secara garis besar, dosen bisa dikategorikan sebagai: (1) dosen senior, dan (2) dosen junior. Dosen senior umumnya berusia di atas 40-an tahun, setidaknya bergelar doktor (atau professor), dengan jam terbang yang cukup tinggi. Sebaliknya, dosen junior biasanya berusia di bawah 40 tahun, umumnya masih bergelar master, dan masih gampang dijumpai di lingkungan kampus.

Tentu saja, masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Sebagai contoh, kalau Anda memilih dosen pembimbing senior, biasanya Anda akan mengalami kesulitan sebagai berikut:

  • Proses bimbingan cukup sulit, karena umumnya dosen senior sangat perfeksionis.
  • Anda akan kesulitan untuk bertemu muka karena umumnya dosen senior memiliki jam terbang tinggi dan jadwal yang sangat padat.

Tapi, keuntungannya:

  • Kualitas skripsi Anda, secara umum, akan lebih memukau daripada rekan Anda.
  • Anda akan “tertolong” saat ujian skripsi/pendadaran, karena dosen penguji lain (yang kemungkinan masih junior/baru bergelar master) akan merasa sungkan untuk “membantai” Anda.
  • Dalam beberapa kasus, bisa dipastikan Anda akan mendapat nilai A.

Sebaliknya, kalau Anda memilih dosen pembimbing junior, maka Anda akan lebih mudah selama proses bimbingan. Dosen Anda akan mudah dijumpai di lingkungan kampus karena jam terbangnya belum terlalu tinggi. Dosen muda umumnya juga tidak “jaim” dan “sok” kepada mahasiswanya.

Tapi, kerugiannya, Anda akan benar-benar “sendirian” ketika menghadapi ujian skripsi. Kalau dosen penguji lain lebih senior daripada dosen pembimbing Anda, bisa dipastikan Anda akan “dihajar” cukup telak. Dan dosen pembimbing Anda tidak berada dalam posisi yang bisa membantu/membela Anda.

Jadi, hati-hati juga dalam memilih dosen pembimbing.

Format Skripsi yang Benar

Biasanya, setiap fakultas/universitas sudah menerbitkan acuan/pedoman penulisan hasil penelitian yang baku. Mulai dari penyusunan konten, tebal halaman, jenis kertas dan sampul, hingga ukuran/jenis huruf dan spasi yang digunakan. Akan tetapi, secara umum format hasil penelitian dibagi ke dalam beberapa bagian sebagai berikut.

Pendahuluan. Bagian pertama ini menjelaskan tentang isu penelitian, motivasi yang melandasi penelitian tersebut dilakukan, tujuan yang diharapkan dapat tercapai melalui penelitian ini, dan kontribusi yang akan diberikan dari penelitian ini.

Pengkajian Teori & Pengembangan Hipotesis. Setelah latar belakang penelitian dipaparkan jelas di bab pertama, kemudian dilanjutkan dengan kaji teori dan pengembangan hipotesis. Pastikan bahwa bagian ini align juga dengan bagian sebelumnya. Mengingat banyak juga mahasiswa yang “gagal” menyusun alignment ini. Akibatnya, skripsinya terasa kurang make sense dan nggak nyambung.

Metodologi Penelitian. Berisi penjelasan tentang data yang digunakan, pemodelan empiris yang dipakai, tipe dan rancangan sampel, bagaimana menyeleksi data dan karakter data yang digunakan, model penelitian yang diacu, dan sebagainya.

Hasil Penelitian. Bagian ini memaparkan hasil pengujian hipotesis, biasanya meliputi hasil pengolahan secara statistik, pengujian validitas dan reliabilitas, dan diterima/tidaknya hipotesis yang diajukan.

Penutup. Berisi ringkasan, simpulan, diskusi, keterbatasan, dan saran. Hasil penelitian harus disarikan dan didiskusikan mengapa hasil yang diperoleh begini dan begitu. Anda juga harus menyimpulkan keberhasilan tujuan riset yang dapat dicapai, manakah hipotesis yang didukung/ditolak, keterbatasan apa saja yang mengganggu, juga saran-saran untuk penelitian mendatang akibat dari keterbatasan yang dijumpai pada penelitian ini.

Jangan lupa untuk melakukan proof-reading dan peer-review. Proof-reading dilakukan untuk memastikan tidak ada kesalahan tulis (typo) maupun ketidaksesuaian tata letak penulisan skripsi. Peer-review dilakukan untuk mendapatkan second opinion dari pihak lain yang kompeten. Bisa melalui dosen yang Anda kenal baik (meski bukan dosen pembimbing Anda), kakak kelas/senior Anda, teman-teman Anda yang dirasa kompeten, atau keluarga/orang tua (apabila latar belakang pendidikannya serupa dengan Anda).

Beberapa Kesalahan Pemula

Ketidakjelasan Isu. Isu adalah titik awal sebelum melakukan penelitian. Isu seharusnya singkat, jelas, padat, dan mudah dipahami. Isu harus menjelaskan tentang permasalahan, peluang, dan fenomena yang diuji. Faktanya, banyak mahasiswa yang menuliskan isu (atau latar belakang) berlembar-lembar, tetapi sama sekali sulit untuk dipahami.

Tujuan Riset & Tujuan Periset. Tidak jarang mahasiswa menulis “sebagai salah satu syarat untuk mencapai gelar kesarjanaan” sebagai tujuan risetnya. Hal ini adalah kesalahan fatal. Tujuan riset adalah menguji, mengobservasi, atau meneliti fenomena dan permasalahan yang terjadi, bukan untuk mendapatkan gelar S1.

Bab I: Bagian Terpenting. Banyak mahasiswa yang mengira bahwa bagian terpenting dari sebuah skripsi adalah bagian pengujian hipotesis. Banyak yang menderita sindrom ketakutan jika nantinya hipotesis yang diajukan ternyata salah atau ditolak. Padahal, menurut saya, bagian terpenting skripsi adalah Bab I. Logikanya, kalau isu, motivasi, tujuan, dan kontribusi riset bisa dijelaskan secara runtut, biasanya bab-bab berikutnya akan mengikuti dengan sendirinya. (baca juga: Joint Hypotheses)

Padding. Ini adalah fenomena yang sangat sering terjadi. Banyak mahasiswa yang menuliskan terlalu banyak sumber acuan dalam daftar pustaka, walaupun sebenarnya mahasiswa yang bersangkutan hanya menggunakan satu-dua sumber saja. Sebaliknya, banyak juga mahasiswa yang menggunakan beragam acuan dalam skripsinya, tetapi ketika ditelusur ternyata tidak ditemukan dalam daftar acuan.

Joint Hypotheses. Menurut pendekatan saintifik, pengujian hipotesis adalah kombinasi antara fenomena yang diuji dan metode yang digunakan. Dalam melakukan penelitian ingatlah selalu bahwa fenomena yang diuji adalah sesuatu yang menarik dan memungkinkan untuk diuji. Begitu pula dengan metode yang digunakan, haruslah metode yang valid dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Kalau keduanya terpenuhi, yakinlah bahwa skripsi Anda akan outstanding. Sebaliknya, kalau Anda gagal memenuhi salah satu (atau keduanya), bersiaplah untuk dibantai dan dicecar habis-habisan.

Keterbatasan & Kemalasan. Mahasiswa sering tidak bisa membedakan antara keterbatasan riset dan “kemalasan riset”. Keterbatasan adalah sesuatu hal yang terpaksa tidak dapat terpenuhi (atau tidak dapat dilakukan) karena situasi dan kondisi yang ada. Bukan karena kemalasan periset, ketiadaan dana, atau sempitnya waktu.

Kontribusi Riset. Ini penting (terutama) jika penelitian Anda ditujukan untuk menarik sponsor atau dibiayai dengan dana pihak sponsor. Kontribusi riset selayaknya dijelaskan dengan lugas dan gamblang, termasuk pihak mana saja yang akan mendapatkan manfaat dari penelitian ini, apa korelasinya dengan penelitian yang sedang dilakukan, dan seterusnya. Kegagalan dalam menjelaskan kontribusi riset akan berujung pada kegagalan mendapatkan dana sponsor.

Menghadapi Ujian Skripsi

Benar. Banyak mahasiswa yang benar-benar takut menghadapi ujian skripsi (oral examination). Terlebih lagi, banyak mahasiswa terpilih yang jenius tetapi ternyata gagal dalam menghadapi ujian pendadaran. Di dalam ruang ujian sendiri tidak jarang mahasiswa mengalami ketakutan, grogi, gemetar, berkeringat, yang pada akhirnya menggagalkan ujian yang harus dihadapi.

Setelah menulis skripsi, Anda memang harus mempertahankannya di hadapan dewan penguji. Biasanya dewan penguji terdiri dari satu ketua penguji dan beberapa anggota penguji. Lulus tidaknya Anda dan berapa nilai yang akan Anda peroleh adalah akumulasi dari skor yang diberikan oleh masing-masing penguji. Tiap penguji secara bergantian (terkadang juga keroyokan) akan menanyai Anda tentang skripsi yang sudah Anda buat. Waktu yang diberikan biasanya berkisar antara 30 menit hingga 1 jam.

Ujian skripsi kadang diikuti juga dengan ujian komprehensif yang akan menguji sejauh mana pemahaman Anda akan bidang yang selama ini Anda pelajari. Tentu saja tidak semua mata kuliah diujikan, melainkan hanya mata kuliah inti (core courses) saja dengan beberapa pertanyaan yang spesifik, baik konseptual maupun teknis.

Grogi, cemas, kuatir itu wajar dan manusiawi. Akan tetapi, ujian skripsi sebaiknya tidak perlu disikapi sebagai sesuatu yang terlalu menakutkan. Ujian skripsi adalah “konfirmasi” atas apa yang sudah Anda lakukan. Kalau Anda melakukan sendiri penelitian Anda, tahu betul apa yang Anda lakukan, dan tidak grogi di ruang ujian, bisa dipastikan Anda akan perform well.

Cara terbaik untuk menghadapi ujian skripsi adalah Anda harus tahu betul apa yang Anda lakukan dan apa yang Anda teliti. Siapkan untuk melakukan presentasi. Akan tetapi, tidak perlu Anda paparkan semuanya secara lengkap. Buatlah “lubang jebakan” agar penguji nantinya akan menanyakan pada titik tersebut. Tentu saja, Anda harus siapkan jawabannya dengan baik. Dengan begitu Anda akan tampak outstanding di hadapan dewan penguji.

Juga, ada baiknya beberapa malam sebelum ujian, digiatkan untuk berdoa atau menjalankan sholat tahajud di malam hari. Klise memang. Tapi benar-benar sangat membantu.

Jujur saja, saya (dulu) menyelesaikan skripsi dalam tempo 4 minggu tanpa ada kendala dan kesulitan yang berarti. Dosen pembimbing saya adalah seorang professor dengan jam terbang sangat tinggi. Selama berada dalam ruang ujian, kami lebih banyak berbicara santai sembari sesekali tertawa. Dan Alhamdulillah saya mendapat nilai A.

Bukan. Bukan saya bermaksud sombong, tetapi hanya untuk memotivasi Anda. Kalau saya bisa, seharusnya Anda sekalian pun bisa.

Pasca Ujian Skripsi

Banyak yang mengira, setelah ujian skripsi segalanya selesai. Tinggal revisi, bawa ke tukang jilid/fotokopi, urus administrasi, daftar wisuda, lalu traktir makan teman-teman. Memang benar. Setelah Anda dinyatakan lulus ujian skripsi, Anda sudah berhak menyandang gelar sarjana yang selama ini Anda inginkan.

Faktanya, lulus ujian skripsi saja sebenarnya belum terlalu cukup. Sebenarnya Anda bisa melakukan lebih jauh lagi dengan skripsi Anda. Caranya?

Cara paling gampang adalah memodifikasi dan memperbaiki skripsi Anda untuk kemudian dikirimkan pada media/jurnal publikasi. Cara lain, kalau Anda memang ingin serius terjun di dunia ilmiah, lanjutkan dan kembangkan saja penelitian/skripsi Anda untuk jenjang S2 atau S3. Dengan demikian, kelak akan semakin banyak penelitian dan publikasi yang mudah-mudahan bisa memberi manfaat bagi bangsa ini.

Bukan apa-apa, saya cuma ingin agar bangsa ini bisa lebih cerdas dan arif dalam menciptakan serta mengelola pengetahuan. Sekarang mungkin kita memang tertinggal dari bangsa lain. Akan tetapi, dengan melakukan penelitian, membuat publikasi, dan seterusnya, bangsa ini bisa cepat bangkit mengejar ketertinggalan.

Jadi, menyusun skripsi itu sebenarnya mudah kan?

Hakikat Bahasa


st1\:*{behavior:url(#ieooui) }
<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:Wingdings; panose-1:5 0 0 0 0 0 0 0 0 0; mso-font-charset:2; mso-generic-font-family:auto; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:0 268435456 0 0 -2147483648 0;} @font-face {font-family:”Monotype Corsiva”; panose-1:3 1 1 1 1 2 1 1 1 1; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:script; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;} @font-face {font-family:Calibri; mso-font-alt:”Century Gothic”; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:swiss; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:””; margin:0in; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} p.MsoFooter, li.MsoFooter, div.MsoFooter {margin:0in; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; tab-stops:center 3.0in right 6.0in; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} p.MsoBodyText2, li.MsoBodyText2, div.MsoBodyText2 {mso-style-link:” Char Char2″; mso-style-next:Normal; margin:0in; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; mso-layout-grid-align:none; text-autospace:none; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:Calibri;} a:link, span.MsoHyperlink {color:blue; text-decoration:underline; text-underline:single;} a:visited, span.MsoHyperlinkFollowed {color:purple; text-decoration:underline; text-underline:single;} span.CharChar2 {mso-style-name:” Char Char2″; mso-style-locked:yes; mso-style-link:”Body Text 2″; mso-ansi-font-size:12.0pt; mso-bidi-font-size:12.0pt; font-family:Calibri; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-ansi-language:EN-US; mso-fareast-language:EN-US; mso-bidi-language:AR-SA;} p.Default, li.Default, div.Default {mso-style-name:Default; mso-style-parent:””; margin:0in; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; mso-layout-grid-align:none; text-autospace:none; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:Calibri; color:black;} @page Section1 {size:8.5in 11.0in; margin:113.75pt 84.95pt 84.95pt 113.75pt; mso-header-margin:.5in; mso-footer-margin:.5in; mso-page-numbers:1; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} /* List Definitions */ @list l0 {mso-list-id:587662219; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:574942380 67698713 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l0:level1 {mso-level-number-format:alpha-lower; mso-level-tab-stop:.5in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in;} @list l1 {mso-list-id:875392040; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:901425578 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693;} @list l1:level1 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:; mso-level-tab-stop:.5in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in; font-family:Symbol;} ol {margin-bottom:0in;} ul {margin-bottom:0in;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin:0in;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}

BAB I

PENDAHULUAN

Bahasa adalah sesuatu yang hidup. Sebagai sesuatu yang hidup, ia tentu mengalami perkembangan.Dan perkembangan berarti perubahan. Perubahan itu terjadi, oleh karena bahasa adalah satu-satunya milik manusia yang tak pernah lepas dari segala kegiatan dan gerak manusia sebagai makhluk yang berbudaya dan bermasyarakat. Keterikatan dan keterkaitan bahasa dengan manusia itulah yang mengakibatkan bahasa itu menjadi tidak statis, atau meminjam istilah Chaer (1994:53) bahwa bahasa itu dinamis.

Kecenderungan studi bahasa yang memisahkan bahasa dengan dimensi pemakai dan pemakaiannya (konteks sosialnya) inilah yang kemudian mengilhami lahirnya pendekatan baru dalam studi bahasa yaitu sosiolinguistik. Dalam hal ini, objek studi bahasa dalam pandangan sosiolingustik bukan hanya semata dilihat dari sistem atau kaidah-kaidah bahasa itu, melainkan juga pada konteks dan komunikatifnya. Sejalan dengan ini Tallei (1997) menyatakan bahwa bahasa tidaklah digunakan dalam bentuk kalimat yang terisolasi, melainkan dalam situasi nyata yang dilatarbelakangi oleh konteks dan digunakan untuk tujuan berkomunikasi.

Sehingga dengan demikian objek studi bahasa dalam perspektif sosioliguistik adalah parole (dalam konsep Saussure,1916), atau performansi (dalam konsep Chomsky). Konsep-konsep parole dan performansi itu diabstraksi dari bahasa yang benar-benar digunakan secara aktual. Setiap orang akan menghasilkan parole dan performance secara berbeda. Dari perbedaan itulah kemudian dikenal variasi bahasa..

Pada waktu anggota masyarakat bahasa berinteraksi, mereka menggunakan aturan-aturan yang mereka mengerti bersama tentang bagaimana menyampaikan pesan dan memberikan respon, bagaimana bertanya-jawab, bagaimana memberikan pengahargaan dan sanjungan, bagaimana tanggapan tentang hal itu disampaikan, dan banyak hal lain yang secara rutin dihadapi setiap hari.

Di dalam kehidupannya bermasyarakat, sebenarnya manusia dapat juga menggunakan alat komunikasi lain, selain bahasa. Namun, nampaknya bahasa merupakan alat komunikasi yang paling baik, paling sempurna, dibandingkan dengan alat-alat komunikasi lain.

Oleh karena itu, untuk memahami bagaimana wujud komunikasi yang dilakukan dengan bahasa ini, terlebih dahulu dalam makalah ini akan dibicarakan apa hakikat bahasa, apa hakikat komunikasi, kemudian baru dibicarakan apa dan bagaimana komunikasi bahasa itu, serta apa dan bagaimana kelebihannya dari alat komunikasi lain.

BAB II

PEMBAHASAN

A. Hakikat Bahasa

Dari beberapa buku linguistik akan kita jumpai berbagai rumusan mengenai hakikat bahasa. Rumusan-rumusan itu kalau dibutiri akan menghasilkan beberapa ciri yang merupakan hakikat bahasa. Ciri-ciri yang merupakan hakikat bahasa itu antara lain :

a. bahasa itu sebuah sistem lambang

b. bahasa berupa bunyi

c. bahasa bersifat arbitrer

d. bahasa itu produktif

e. bahasa itu dinamis, beragam, dan manusiawi.

Ciri-ciri bahasa yang disebutkan di atas, yang menjadi indikator akan hakikat bahasa adalah menurut pandangan linguistic umum (general linguistics). Menurut pandangan sosiolinguistik bahasa itu juga mempunyai ciri sebagai alat interkasi social dan sebagai alat mengidentifikasikan diri.

B. Fungsi-Fungsi Bahasa

Bagi sosiolinguistik konsep bahwa bahasa adalah alat atau berfungsi untuk menyampaikan pikiran dianggap terlalu sempit, sebab seperti dikemukakan Fishman (1972) bahwa yang menjadi persoalan sosiolinguistik adalah “who spreak what language to whom, whem and towhat end”. Oleh karena itu, fungsi-fungsi bahasa itu, antara lain dapat dilihat dari sudut penutur, pndengar, topik, kode dan amanat pembicaraan.

Dilihat dari sudut penutur, maka bahasa itu berfungsi personal atau pribadi (Haliday 1973, Finnocchiaro 1974; Jakobson 1960 menyebutnya fungsi emotif). Maksudnya, si penutur bukan hanya mengungkapkan emosi lewat bahasa, tetapi juga memperlihatkan emosi itu sewaktu menyampaikan tuturannya. Dalam hal ini pihak si pendengar juga dapat menduga apakah si penutur sedih, marah, atau gembira.

Dilihat dari segi pendengar atau lawan bicara, maka bahasa itu berfungsi direktif (Finnocchiaro 1974) yaitu mengatur tingkah laku pendengar. Di sini bahasa itu tidak hanya membuat si pendengar melakukan sesuatu, tetapi melakukan kegiatan yang sesuai dengan yang dimaui si pembicara. Hal ini dapat dilakukan si penutur dengan menggunakan kalimat-kalimat yang menyatakan perintah, himbauan, permintaan, maupun rayuan.

Bila dilihat dari segi kontak antara penutur dan pendengar maka bahasa di sini berfungsi fatik (Jakobson 1960), yaitu fungsi manjalin hubungan, memelihara, memperlihatkan perasaan bersahabat, atau solidaritas social. Ungkapan yang digunakan biasanya berpola tetap, seperti pada waktu berjumpa, berpisah, membicarakan cuaca. Ungkapan-ungkapan fatik ini juga biasanya disertai dengan unsur paralinguistic, seperti senyuman, gelengan kepala, gerak-gerik tangan.

Dari segi topik ujaran, maka bahasa itu berfungsi referensial (Finnocchiaro 1974) ada juga yang menyebutnya fungsi denotatif atau fungsi informatif. Di sini bahasa itu berfungsi sebagai alat untuk menyatakan pikiran, untuk menyatakan bagaimana pendapat sipenutur tentang dunia disekelilingnya.

Kalau dilihat dari segi kode yang digunakan, maka bahasa itu berfungsi metalingual atau metalinguistik (Jakobson 1960) yakni bahasa itu digunakan untuk membicarakan bahasa itu sendiri. Hal ini dapat dilihat dari proses pembelajaran bahasa dimana kaidah-kaidah atau aturan-aturan bahasa dijelaskan dengan bahasa.

Dari segi amanat yang akan disampaikan, maka bahasa itu berfungsi imaginatif (Halliday 1973). Sesungguhnya, bahasa itu dapat digunakan untuk menyampaikan pikiran, gagasan, dan perasaan;baik yang sebenarnya, maupun yang berbentuk khayalan, rekaan saja. Fungsi imaginatif ini biasanya berupa karya seni yang digunakan untuk kesenangan penutur, maupun para pendengarnya.

C. Hakikat Komunikasi

Komponen komunikasi adalah hal-hal yang harus ada agar komunikasi bisa berlangsung dengan baik. Menurut Laswell komponen-komponen komunikasi adalah:

  • pengirim atau komunikator (sender) adalah pihak yang mengirimkan pesan kepada pihak lain
  • pesan (message) adalah isi atau maksud yang akan disampaikan oleh satu pihak kepada pihak lain.
  • saluran (channel) adalah media dimana pesan disampaikan kepada komunikan. dalam komunikasi antar-pribadi (tatap muka) saluran dapat berupa udara yang mengalirkan getaran nada/suara.
  • penerima atau komunikate (receiver) adalah pihak yang menerima pesan dari pihak lain
  • umpan balik (feedback) adalah tanggapan dari penerimaan pesan atas isi pesan yang disampaikannya.

Pada awal kehidupan di dunia, komunikasi digunakan untuk mengungkapkan kebutuhan organis. Sinyal-sinyal kimiawi pada organisme awal digunakan untuk reproduksi. Seiring dengan evolusi kehidupan, maka sinyal-sinyal kimiawi primitif yang digunakan dalam berkomunikasi juga ikut berevolusi.

Manusia berkomunikasi untuk membagi pengetahuan dan pengalaman. Melalui komunikasi, sikap dan perasaan seseorang atau sekelompok orang dapat dipahami oleh pihak lain. Akan tetapi, komunikasi hanya akan efektif apabila pesan yang disampaikan dapat ditafsirkan sama oleh penerima pesan tersebut.

Suatu proses komunikasi memang sering kali tidak dapat berjalan dengan mulus karena adanya gangguan atau hambatan. Tiadanya kesadaran dari salah satu pihak partisipan merupakan suatu hambatan. Gangguan dan hambatan lain, misalnya, daya pendengaran salah satu partisipan yang kurang baik, suara bising di tempat komunikasi berlangsung, atau juga kemampuan penggunaan bahasa yang kurang.

C. Komunikasi Bahasa

Setiap psoses komunikasi bahasa dimulai dengan si pengirim merumuskan terlebih dahulu yang ingin diujarkan dalam suatu kerangka gagasan. Proses ini dikenal istilah semantic encoding. Gagasan itu lalu disusun dalam bentuk kalimat atau kalimat-kalimat yang gramatikal;proses memindahkan gagasan dalam bentuk kalimat yang gramatikal ini disebut grammatical encoding. Setelah tersusun dalam kalimat yang gramatikal, lalu kalimat (yang berisi gagasan tadi) diucapkan. Proses ini disebut phonological encoding. Kemudian oleh si pendengar atau penerima, ujaran tadi di terjemahkan (decoding).

Ada dua macam komunikasi bahasa, yaitu komunikasi searah dan komunikasi dua arah. Dalam komunikasi searah, si pengirim tetap sebagai sipengirm, dan si penerima tetap sebagai penerima. Dalam komunikasi dua arah, secara berganti-ganti si pengirim bisa menjadi penerima, dan penerima bisa menjadi pengirim.

Sebagai alat komunikasi, bahasa itu terdiri dari dua aspek, yaitu aspek linguistik dan aspek paralinguistic. Kedua aspek ini berfungsi sebagai alat komunikasi, bersama-sama dengan konteks situasi membentuk atau membangun situasi tertentu dalam proses komunikasi. Dewasa ini, dengan bantuan alat-alat modern sistem komunikasi bahasa telah dapat menembus jarak dan waktu.

D. Keistimewaan Bahasa Manusia

Dalam makalah yang disajikan C. F. Hockett dalam konfrensi tentang kesemestaan Bahasa di Dobbs Ferry, AS, tahun 1961, Hocket mendaftarkan 16 ciri khusus yang membedakan bahasa dari sistem komunikasi dari mahluk sosialyang lain, yaitu: (1) Jalur vokal-auditif; (2) Penyiaran ke semua jurusan, tetapi penerimaan yang terarah; (3) Cepat hilang; (4) Dapat saling berganti; (5) Umpan balik yang lengkap; (6) spesialisasi; (7) Kebermaknaan; (8) Kewenangan; (9) Keterpisahan; (10) Keterlepasan (11) Keterbukaan; (12) Pembelajaran; (13) Dualitas Struktur; (14) Benar atau tidak; (15) Refleksivitas; dan (16) Dapat dipelajari.

BAB III

PENUTUP

Semua orang mepunyai kemampuan untuk berkomunikasi dengan orang lain dengan menggunakan bahasa. Menggunakan bahasa atau berbahasa ini adalah suatu kegiatan yang menjadi bagian terpenting yang dibutuhkan oleh manusia, sehingga berbahasa itu sifatnya alamiah atau sesuatu yang normal.

Dengan bahasa, membuat kita manjadi mahluk yang bermasyarakat serta menjadi sarana untuk mengekspresikan diri, menyampaikan pesan kepada orang lain dan yang utama dalam proses komunikasi.

Dalam Konfrensi tentang Kesemestaan Bahasa di Dobbs Ferry, AS, tahun !961, J.H Greenberg (1963) mendaftarkan 16 ciri khusus bahasa manusia, yaitu: (1) Jalur vokal-auditif; (2) Penyiaran ke semua jurusan, tetapi penerimaan yang terarah; (3) Cepat hilang; (4) Dapat saling berganti; (5) Umpan balik yang lengkap; (6) spesialisasi; (7) Kebermaknaan; (8) Kewenangan; (9) Keterpisahan; (10) Keterlepasan (11) Keterbukaan; (12) Pembelajaran; (13) Dualitas Struktur; (14) Benar atau tidak; (15) Refleksivitas; dan (16) Dapat dipelajari.

Adapun pembahasan inti dalam makalah ini, terdiri atas : 1) hakikat bahasa, 2) Fungsi-fungsi bahasa, 3) hakikat komunikasi, 4) komunikasi bahasa, dan 5) keistimewaan bahasa manusia.

Für Ihre auf Mersamkeit bedanke ich mich Ihnen sehr. On3.

DAFTAR PUSTAKA

Subjakto, Sri Utami, Dr.1998. Sosiolinguistik Suatu Pengantar. Jakarta: Dep. Pendidikan dan Kebudayaan.

Chaer, Abdul. Sosiolinguistik Kajian Teoritik. Jakarta: PT. Rineka Cipta.

Dardjowidjojo, Soenjono. 2003. Psikolinguistik. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

(B. J. Gunawan)

Deutschkurs in Al. Markaz

v\:* {behavior:url(#default#VML);}
o\:* {behavior:url(#default#VML);}
w\:* {behavior:url(#default#VML);}
.shape {behavior:url(#default#VML);}

Normal
0

false
false
false

MicrosoftInternetExplorer4

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin:0in;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}

Herzlich Willkommen

Kursus Bahasa Asing/Jerman

AL MARKAZ DEUTSCHKURS

Am Samstag, um 16 Uhr/Sabtu, pukul 16.00

Freie Angebote :


DEUTSCH FÜR JUGENDLICHE /BAHASA JERMAN UNTUK
REMAJA

DEUTSCH FÜR ANFÄNGER/BAHASA JERMAN UNTUK
PEMULA

Die Kontakperson : Wawan 085242474288

: Nia
04116176068

: Fitri
085299875694

jerman_almarkaz@yahoo.de

http://www.chua-ka.com

Pengembangan Kurikulum Berbasis Kewiraswastaan (Entrepreneurship) dan Peningkatan Skills Menyonsong Dunia Kerja


st1\:*{behavior:url(#ieooui) }
<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:Wingdings; panose-1:5 0 0 0 0 0 0 0 0 0; mso-font-charset:2; mso-generic-font-family:auto; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:0 268435456 0 0 -2147483648 0;} @font-face {font-family:Garamond; panose-1:2 2 4 4 3 3 1 1 8 3; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:roman; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:””; margin:0in; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} p.MsoFooter, li.MsoFooter, div.MsoFooter {margin:0in; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; tab-stops:center 3.0in right 6.0in; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} @page Section1 {size:8.5in 11.0in; margin:1.2in 1.25in 1.2in 1.5in; mso-header-margin:.5in; mso-footer-margin:.5in; mso-page-numbers-chapter-style:header-1; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} /* List Definitions */ @list l0 {mso-list-id:500661959; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:-1423937442 769528594 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l0:level1 {mso-level-number-format:alpha-lower; mso-level-tab-stop:.5in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in; mso-ansi-font-weight:bold;} @list l1 {mso-list-id:630790160; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:1295420612 -1795410338 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693;} @list l1:level1 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:; mso-level-tab-stop:16.55pt; mso-level-number-position:left; margin-left:.25in; text-indent:-.15in; mso-ansi-font-size:10.0pt; mso-bidi-font-size:10.0pt; font-family:Symbol;} @list l2 {mso-list-id:1018703843; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:-1743075552 67698713 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l2:level1 {mso-level-number-format:alpha-lower; mso-level-tab-stop:117.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:117.0pt; text-indent:-.25in;} @list l3 {mso-list-id:1796944795; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:1039858274 67698709 67698713 1994394906 67698699 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l3:level1 {mso-level-number-format:alpha-upper; mso-level-tab-stop:.25in; mso-level-number-position:left; margin-left:.25in; text-indent:-.25in;} @list l3:level2 {mso-level-number-format:alpha-lower; mso-level-tab-stop:.75in; mso-level-number-position:left; margin-left:.75in; text-indent:-.25in;} @list l3:level3 {mso-level-text:”%3\)”; mso-level-tab-stop:99.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:99.0pt; text-indent:-.25in; mso-ansi-font-weight:bold;} @list l3:level4 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:; mso-level-tab-stop:1.75in; mso-level-number-position:left; margin-left:1.75in; text-indent:-.25in; font-family:Wingdings;} @list l4 {mso-list-id:1799377282; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:1178925914 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l4:level1 {mso-level-tab-stop:.5in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in;} ol {margin-bottom:0in;} ul {margin-bottom:0in;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin:0in;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}

PENDAHULUAN

Proses globalisasi akan terus merebak. Tidak ada satu wilayah pun yang dapat menghindari dari kecenderungan perubahan yang bersifat global tersebut, dengan segala berkah, problem dan tantangan-tantangan yang menyertainya. Perubahan yang bersifat global yang begitu cepat menuntut kepekaan organisasi dalam merespon perubahan yang terjadi agar tetap exist dalam kancah persaingan global.

Tantangan utama dunia pendidikan Indonesia dewasa ini dan di masa depan adalah kemampuan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Dalam kaitan ini menarik untuk dikaji bagaimana kualitas pendidikan kita dan upaya apa yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan sehingga bisa menghasilkan sumber daya manusia yang lebih berkualitas sebagaimana diharapkan, agar bangsa Indonesia menjadi bangsa yang produktif, efisien, dan memiliki kepercayaan diri yang kuat sehingga mampu bersaing dengan bangsa-bangsa lain dalam kehidupan global ini.

Dunia pendidikan dalam hal ini Perguruan Tinggi juga harus mengantisipasi kecenderungan-kecenderungan global yang akan terjadi. Beberapa kecenderungan global yang perlu untuk diantisipasi oleh Perguruan Tinggi antara lain adalah: Pertama, proses investasi dan re-investasi yang terjadi di dunia industri berlangsung sangat cepat, menyebabkan terjadinya perubahan-perubahan yang sangat cepat pula pada organisasi kerja, struktur pekerjaan, struktur jabatan dan kualifikasi tenaga kerja yang dibutuhkan dengan kualifikasi yang lebih tinggi. Kedua, perkembangan industri, komunikasi dan informasi yang semakin cepat akan melahirkan “knowledge worker” yang semakin besar jumlahnya. Knowledge worker ini adalah pekerjaan yang berkaitan erat dengan information processing. Ketiga, berkembang dan meluasnya ide demokratisasi yang bersifat substansi,yang menuntut perlunya kreatifitas dosen. Dengan sendirinya akan bermunculan berbagai bentuk praktekkurikuler yang berbeda satu dengan yang lain, yang kesemuanya untuk menghasilkan lulusan yang produktif dan berkualitas.

John Simmon dalam bukunya Better Schools sudah memprediksi bahwa hasil pendidikan tradisional semacam itu hanya akan melahirkan lulusan yang hanya pantas jadi pengikut bukannya jadi pemimpin. Jenis kerja yang mereka pilih adalah kerja yang sifatnya rutin dan formal, bukannya kerja yang memerlukan inisiatif, kreatifitas dan entrepreneurship.

Sudah barang tentu dengan kualitas dasar sumber daya manusia tersebut di atas, bangsa Indonesia sulit untuk dapat menghadapi tantangan-tantangan yang muncul sebagai akibat adanya kecenderungan global, termasuk ketidakmampuan perguruan tinggi membaca kebutuhan lapangan pekerjaan. Oleh karena itu agar SDM Indonesia mampu bersaing dalam dunia global diperlukan adanya reformasi dalam pendidikan, yang salah satu di antara aspek reformasi tersebut adalah perlu dikembangkannya pendidikan yang berwawasan global dengan pembaharuan pada kurikulum pembelajaran.

Pembaharuan yang dimaksudkan mengarah pada program bidang studi. Ada beberapa program studi yang tidak layak dipertahankan, itu pun masih dipertahankan keberadaannya. Seolah bertujuan untuk melengkapi program studi lainnya supaya kelihatan banyak program studi yang diberlangsungkan dalam perguruan tinggi tersebut. Sementara ada beberapa program studi yang sangat diminati konsumen pendidikan, program studi tersebut tidak digarap secara serius, sebut saja perlengkapan infrastruktur dan suprakstrukturnya. Ini sangat menunjukkan bahwa pengelolaan pendidikan tinggi selama ini belum dikerjakan secara profesional.

Beberapa kecenderungan dan permasalahan yang diukemukakan di atas menuntut kualitas sumber daya manusia yang berbeda dengan kualitas yang ada dewasa ini. Muncul pertanyaan mampukah kurikulum yang dipergunakan oleh Perguruan Tinggi menghasilkan lulusan dengan kualitas yang memadai untuk menghadapi kecenderungan dan kesenjangan di atas? Hal ini menuntut perlunya pengembangan kurikulum berdasarkan jiwa kewirausahaan dan peningkatan skill dalam menyongsong dunia kerja.

PEMBAHASAN

A. Kurikulum Perguruan Tinggi

Kurikulum merupakan acuan dalam menjalangkan dan mengembangkan pendidikan suatu institusi pendidikan. Kurikulum merupakan acuan dasar pembentukan dan penjaminan tercapainya kompetensi lulusan dalam setiap program akademik pada tingkat program studi. Dalam hal kebutuhan yang dianggap perlu maka perguruan tinggi dapat menetapkan penyertaan komponen kurikulum tertentu menjadi bagian dari struktu kurikulum yang disusun oleh masing-masing program studi.

Kurikulum Perguruan Tinggi (PT) merupakan domain yang paling menentukan dari kualifikasi lulusan suatu perguruan tinggi. Kurikulum PT merupakan jawaban paling nyata atas kebutuhan riil dari para pencari tenaga kerja. Kualifikasi apa yang dibutuhkan oleh para pencari kerja, selalu diakomodasi dalam muatan kurikulum perguruan tinggi serta mampu menciptakan sistem tata pamong yang dapat mendorong pemutakhiran.

Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) sejak beberapa tahun lalu telah menyadari adanya permasalahan itu. Maka, melalui Surat Keputusan (SK) Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Nomor 232/U/2000 ditetapkan panduan-panduan untuk menyusun kurikulum PT yang lebih tanggap terhadap kebutuhan dunia kerja.

Menurut SK itu, kurikulum PT terdiri atas kurikulum inti dan kurikulum institusional (Pasal 7 Ayat 1). Baik kurikulum inti maupun institusional terdiri atas kelompok mata kuliah pengembangan kepribadian (MPK), kelompok mata kuliah keilmuan dan keterampilan (MKK), kelompok mata kuliah keahlian berkarya (MKB), kelompok mata kuliah perilaku berkarya (MPB), dan kelompok mata kuliah berkehidupan bermasyarakat (MBB).

Sesuai SK Mendiknas tersebut, perbaikan isi kurikulum menekankan pada upaya pembentukan peserta didik menjadi profesional, kompeten dan sanggup menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan.perbaikan itu harus secara tegas dimasukkan dalam silabus atau rencana isi perkuliahan inti dari pengembangan kurikulum ialah perubahan isi dan bahan kajian serta mata kuliah yang harus disesuaikan dengan setiap perubahan zaman. Perubahan kurikulum itu juga harus dilakukan terhadap kurikulum inti perkuliahan, sehingga sesuai dengan kompetensi yang akan dicapai. Kurikulum inti yang merupakan ciri kompetensi utama bersifat:

a. dasar untukmencapai kompetensi lulusan

b. acuan buku minimal mutu penyelenggaraan program studi

c. berlaku secara nasional dan internasional

d. lentur dan akomodatif terhadap perubahan yang sangat cepat di masa mendatang, dan

e. kesepakatan bersama antara kalangan perguruan tinggi, masyarakat profesi, dan pengguna lulusan.

Pemerintah memberikan otonomi pada perguruan tinggi untuk mengembangkan kurikulum. Menurut SK Mendiknas 045/u/2002, mendiknas tidak menetapkan kurikulum inti untuk setiap program studi. Dengan demikian ada kemungkinan terjadi variasi kurikulum disetiap program studi.

B. Pengembangan Kurikulum

Pengembangan Kurikulum merupakan proses pembaharuan dari kurikulum yang telah diberlakukan sebelumnya menjadi sebuah kurikulum yang berdasarkan inovasi, kreatifitas, profesionalitas, dan berwawasan global, sehingga menghasilkan lulusan yang produktif, berdaya saing, dan peka terhadap perubahan zaman

1) Model Pengembangan Kurikulum

  1. The administrative model;

Model ini merupakan model pengembangan kurikulum yang paling lama dan paling banyak digunakan. Gagasan pengembangan kurikulum datang dari para administrator pendidikan dan menggunakan prosedur administrasi. Dengan wewenang administrasinya, membentuk suatu Komisi atau Tim Pengarah pengembangan kurikulum. Anggotanya, terdiri dari pejabat di bawahnya, para ahli pendidikan, ahli kurikulum, ahli disiplin ilmu, dan para tokoh dari dunia kerja dan perusahaan. Tugas tim ini adalah merumuskan konsep-konsep dasar, landasan-landasan, kebijaksanaan dan strategi utama dalam pengembangan kurikulum. Selanjutnya administrator membentuk Tim Kerja terdiri dari para ahli pendidikan, ahli kurikulum, ahli disiplin ilmu dari perguruan tinggi, dan dosen-dosen senior, yang bertugas menyusun kurikulum yang sesungguhnya yang lebih operasional menjabarkan konsep-konsep dan kebijakan dasar yang telah digariskan oleh Tim pengarah, seperti merumuskan tujuan-tujuan yang lebih operasional, memilih sekuens materi, memilih strategi pembelajaran dan evaluasi, serta menyusun pedoman-pedoman pelaksanaan kurikulum bagi dosen-dosen. Setelah Tim Kerja selesai melaksanakan tugasnya, hasilnya dikaji ulang oleh Tim Pengarah serta para ahli lain yang berwenang atau pejabat yang kompeten.

Setelah mendapatkan beberapa penyempurnaan dan dinilai telah cukup baik, administrator pemberi tugas menetapkan berlakunya kurikulum tersebut. Karena datangnya dari atas, maka model ini disebut juga model Top – Down. Dalam pelaksanaannya, diperlukan monitoring, pengawasan dan bimbingan. Setelah berjalan beberapa saat perlu dilakukan evaluasi.

  1. The grass root model;

Model pengembangan ini merupakan lawan dari model pertama. Inisiatif dan upaya pengembangan kurikulum, bukan datang dari atas tetapi dari bawah, yaitu guru-guru atau sekolah. Model pengembangan kurikulum yang pertama, digunakan dalam sistem pengelolaan pendidikan/kurikulum yang bersifat sentralisasi, sedangkan model grass roots akan berkembang dalam sistem pendidikan yang bersifat desentralisasi. Dalam model pengembangan yang bersifat grass roots seorang dosen, sekelompok dosen atau keseluruhan dosen di suatu PT mengadakan upaya pengembangan kurikulum. Pengembangan atau penyempurnaan ini dapat berkenaan dengan suatu komponen kurikulum, satu atau beberapa bidang studi ataupun seluruh bidang studi dan seluruh komponen kurikulum. Apabila kondisinya telah memungkinkan, baik dilihat dari kemampuan dosen-dosen, fasilitas biaya maupun bahan-bahan kepustakaan, pengembangan kurikulum model grass root tampaknya akan lebih baik.

Hal itu didasarkan atas pertimbangan bahwa dosen adalah perencana, pelaksana, dan juga penyempurna dari pengajaran di kelasnya. Dialah yang paling tahu kebutuhan kelasnya, oleh karena itu dialah yang paling kompeten menyusun kurikulum bagi kelasnya.

Pengembangan kurikulum yang bersifat grass roots, mungkin hanya berlaku ntuk bidang studi tertentu atau sekolah tertentu, tetapi mungkin pula dapat digunakan untuk seluruh bidang studi pada PT. Pengembangan kurikulum yang bersifat desentralistik dengan model grass rootsnya, memungkinkan terjadinya kompetisi dalam meningkatkan mutu dan sistem pendidikan, yang pada gilirannya akan melahirkan manusia-manusia yang lebih mandiri dan kreatif.

2) Bentuk Kurikulum yang Dikembangkan

· Kurikulum Pendidikan Berjiwa Kewiraswastaan (Entrepreneurship)

Diakui maupun tidak, perguruan tinggi selama ini hanya mampu memproduksi banyak produk pemegang gelar D1, D2, D3, S1, atau mungkin S2 namun tidak bisa berbuat apa-apa setelah mereka lulus dari perguruan tinggi. Perguruan tinggi dalam konteks ini tidak bisa melakukan apa-apa, kecuali tetap menggelar pendidikan tingginya. Perguruan tinggi selama ini hanya berkutat pada teori-teori kerja guna memperbanyak peserta didiknya secara kuantitas setiap tahun, tanpa mencoba mengerti, memahami dan menganalisa seberapa banyak produk pendidikannya yang diserap dan terserap ke dunia kerja. Para alumninya dibiarkan begitu saja tanpa diberi panduan dan arah yang jelas, harus kemana dan perlu mengatur konsep teknis apa agar bisa membantu mereka mendapatkan pekerjaan. Sangat jelas, ini berkaitan erat dengan materi ajar yang selama ini tidak berhubungan langsung dengan kebutuhan kongkrit di lapangan. Dalam dunia kerja, yang dibutuhkan adalah kemampuan, skill dan kapasitas tertentu yang bisa mendorong para alumni menciptakan lapangan pekerjaan sendiri, bila mereka kemudian tidak bisa memanfaatkan gelar kesarjanaan yang disandangnya. Selama konsep-konsep pembelajaran yang diterapkan di perguruan tinggi tidak mencerminkan kebutuhan lapangan dan dunia kerja, ini sangat berisiko tinggi untuk membuat peserta didik tidak paham terhadap kenyataan yang ada di hadapan mereka. Mematangkan konsep pembelajaran yang jelas, terukur implikasinya pada efek realitas serta bersinggungan dengan dunia kerja adalah sebuah kemutlakan yang harus dicapai secara praksis. Konsep pembelajaran sedemikian itu bermuara pada bagaimana isi materi ajar perlu diciptakan dan bisa mewadahi semua kebutuhan yang nyata. Konsep pembelajaran tersebut membincangkan sekian materi yang sudah direncanakan dan disiapkan oleh perguruan tinggi dalam menggelar pendidikan tingginya. Perguruan tinggi jangan mengambil bahan materi ajar yang sangat teoritis-sentris namun harus aplikatif-sentris. Ini ditujukan guna menjadikan pendidikan tinggi betul-betul sebangun dengan kebutuhan. Materi kongkrit dan sesuai dengan kebutuhan lapangan akan diperoleh saat para pemegang perguruan tinggi bisa melihat kenyataan sosial yang ada ketika para alumninya sudah bekerja, sebut saja, apakah mereka bekerja sesuai dengan latar pendidikannya selama di perguruan tinggi atau tidak. Bila belum bekerja, mengapa itu bisa terjadi.

Perguruan tinggi dituntut untuk bisa peka dan kritis terhadap hal-hal sedemikian sebab ini merupakan tanggung jawabnya, bukan hanya memberikan pendidikan tinggi terhadap peserta didik namun tidak diperhatikan setelah mereka menyelesaikan studinya di perguruan tinggi. Konsep pembelajaran sedemikian itu juga didukung oleh perangkat keras dan lunak pihak perguruan tinggi secara memadai. Perangkat lunak adalah tingkat kemampuan dan kecerdasan seluruh sumber daya manusia yang dimiliki perguruan tinggi tersebut. Ini sangat penting sebab tanpa hal demikian, sangat sulit terjadi satu pencapaian konsep pembelajaran yang diinginkan bersama. Perangkat keras adalah sumber pendanaan perguruan tinggi yang jelas dan tepat guna membiayai sumber daya manusia yang ada demi melakukan penelitian yang akan terjun ke lapangan dalam rangka mencari tahu keberadaan setiap alumni terkait apa yang telah dikerjakannya setelah lulus dari perguruan tinggi. Bila dua hal tersebut dapat dipenuhi, sangat niscaya pembelajarannya bisa dihasilkan dengan baik.

· Pendidikan Tinggi; Pendidikan Entrepreneur

Menjawab tantangan sosial yang semakin mendesak, pengangguran kian waktu menjubel, maka pendidikan tinggi perlu diarahkan pada pendidikan entrepreneur namun tetap tidak menghilangan identitas lainnya sebagai lembaga pendidikan tinggi berorientasi pada research dan discovery. Pendidikan tinggi dituntut untuk menyemarakkan program pendidikannya yang berjiwa entrepreneur.

Ada beberapa hal yang memberikan ciri dasar pendidikan entrepreneur.

Ø Pertama, pendidikan tersebut lebih menitikberatkan pada penggalian potensi diri setiap peserta didik. Sebut saja, apabila seorang peserta didik memiliki minat dan potensi kemampuan untuk berdagang, maka hal demikian perlu dikembangkan dengan sedemikian tajam. Ketika potensi demikian diketahui dan sudah bisa ditumbuhkan, ini kemudian mengarahkan peserta didik untuk dipompa semangat, upaya dan kejiwaan untuk menekuni itu. Ini bisa dikembangkan dan ditumbuhkan dengan sedemikian pesat ketika proses pembelajaran yang dikembangkan di pendidikan tinggi tersebut secara langsung berkenaan dengan minat dan potensi kemampuan yang dipunyai peserta didik tersebut. Memberikan beberapa contoh mengenai beberapa profil seseorang yang sudah sukses dalam bidang-bidang tertentu adalah satu penggerak utama dan maha utama supaya peserta didik semakin semangat dengan dunia yang ingin digelutinya itu.

Ø Kedua, menyediakan para pengajar yang berlatar kewirausahaan ialah satu kemutlakan yang perlu dipenuhi. Ini berbicara konsep pendidikan entrepreneur yang jelas. Sebab dalam pendidikan entrepreneur, pengajar yang berlatar kewirausahaan memiliki cara dan model pengajaran yang berbeda dengan pengajar yang hanya memiliki pengetahuan teoritik namun tidak berpengalaman dalam dunia kewirausahaan. Seorang pengajar dengan nir-pengalaman kewirausahaan akan terkesan berdasarkan teks, namun tidak sesuai dengan kebutuhan dan pengalaman di lapangan. Sehingga proses pembelajarannya pun mengalami kekeringan nilai-nilai entrepreneur yang sesungguhnya perlu diwujudkan dalam proses pembelajaran sedemikian itu. Pendidikan entrepreneur berbicara hal-hal kongkrit yang perlu dipraktikkan, bukan hanya diteorikan. Sangat jelas, ada perbedaan mendasar antara seorang pengajar yang berpengalaman sebagai seseorang yang bergerak dalam kewirausahaan dan bukan. Proses penyampaian materinya pun juga berbeda ketika memberikan semangat, minat dan suasana dalam pembelajaran. Ini sesungguhnya sangat penting diperhatikan sebab hal mendasar menjadi kunci utama ketika pendidikan entrepreneur digelar. Sehingga peserta didik pun akan berbeda menanggapi penyampaian seorang pengajar yang berlatar entrepreneur dan bukan. Seorang pengajar sangat menentukan apakah proses pembelajarannya berhasil atau tidak dicerna dan dipahami oleh peserta didik. Seorang pengajar adalah orang yang akan berperan penting untuk bisa memberikan pemahaman sangat mendalam apa itu entrepreneur sesungguhnya dan secara ideal. Sehingga seorang pengajar pun dituntut untuk memiliki kemampuan yang sesuai dengan bidangnya. Oleh karenanya, peran seorang pengajar pun sangat signifikan bagi keberlangsungan pembelajaran tersebut.

Ø Ketiga, kehendak politik stakeholder perguruan tinggi sangat dibutuhkan dalam konteks ini. Sebab tanpa adanya kehendak politik yang baik dari perguruan tinggi terkait, ini sangat muskil akan melahirkan sebuah pendidikan tinggi yang baik pula. Oleh karenanya, para stakeholder perguruan tinggi diminta secara serius untuk melakukan satu orientasi pendidikan tinggi yang dibutuhkan lapangan dan pasar. Pendidikan tinggi yang berarah pada entrepreneur adalah sebuah keniscayaan. Sehingga melakukan format kurikulum pendidikan yang berjiwa entrepreneur pun disegerakan untuk digarap secara kongkrit dan praksis.

Kurikulum pendidikan tinggi yang berjiwa entrepreneur adalah dengan mendefinisikan ulang apa itu pendidikan yang dihubungkan dengan entrepreneur sebagai bagian komponen lain untuk menambah wawasan serta pengetahuan peserta didik saat terjun ke lapangan, ketika mereka selesai di bangku pendidikan tingginya. Mempersiapkan perangkat lunak (suprastruktur) yang terkait dengan kurukulum pendidikan entrepreneur adalah hal penting untuk bisa diberesi. Sebab ini adalah modal paling pokok ketimbang lainnya. Selanjutnya adalah mempersiapkan perangkat-perangkat keras atau perangkat pendukung yang bisa mempercepat bagi tercapainya pelaksanaan pendidikan yang berjiwa entrepreneur di perguruan tinggi. Perguruan tinggi harus memenuhi itu semua.

Perangkat pendukung dalam pelaksanaan kurikulum berjiwa entrepreneur adalah:

a. Pemanfaatan Internet Sebagai Media Pembelajaran

Perkembangan teknologi informasi saat ini telah menjalar dan memasuki setiap dimensi aspek kehidupan manusia. Teknolgi informasi saat ini memainkan peran yang besar didalam kegiatan bisnis, perubahan sturktur organisasi, dan manajemen organisasi. Dilain pihak, teknologi informasi juga memberikan peranan yang besar dalam pengembangan keilmuan dan menjadi sarana utama dalam suatu institusi akademik. Berdasarkan paparan diatas, terlihat bagi kita bahwa teknologi iformasi, khususnya internet memiliki peranan yang sangat penting dalam setiap dimensi pendidikan. Berkat adanya jaringan internet, maka dapat membantu setiap penyedia jasa pendidikan untuk selalu mendapat informasi-informasi yang terkini dan sesuai dengan kebutuhan.

Khususnya pada perguruan tinggi, pemanfaatan Internet mampu mengembangkan situasi belajar mengajar yang lebih kondusif dan interaktif. Dimana para peserta didik tidak lagi diperhadapkan dengan situasi yang lebih konvensional, namun mereka akan sangat terbantu dengan adanya metode pembelajaran yang lebih menekankan pada aspek pemakaian lingkungan sebagai sarana belajar.

Oleh karena itu, Elangoan, 1999, Soekartawi, 2002; Mulvihil, 1997; Utarini, 1997, dalam soekartawi (2003), menyatakan bahwa internet pada dasarnya memberikan manfaat antara lain: 1) Mahasiswa dan Dosen dapat berkomunikasi secara mudah melalui fasilitas internet secara regular atau kapan saja kegiatan berkomunikasi itu dilakukan dengan tanpa dibatasi oleh jarak, tempat dan waktu. 2) Dosen dan Mahasiswa dapat menggunakan bahan ajar atau petunjuk belajar yang terstruktur dan terjadual melalui internet, sehingga keduanya bisa saling menilai sampai berapa jauh bahan ajar dipelajari; 3) Mahasiswa dapat belajar atau me-review bahan ajar setiap saat dan di mana saja kalau diperlukan mengingat bahan ajar tersimpan di komputer. 4) Bila Mahasiswa memerlukan tambahan informasi yang berkaitan dengan bahan yang dipelajarinya, ia dapat melakukan akses di internet secara lebih mudah. 5) Baik Dosen maupun Mahasiswa dapat melakukan diskusi melalui internet yang dapat diikuti dengan jumlah peserta yang banyak, sehingga menambah ilmu pengetahuan dan wawasan yang lebih luas. 6) Berubahnya peran Mahasiswa dari yang biasanya pasif menjadi aktif; 7) Relatif lebih efisien.

Namun untuk menjadikan internet sebagai basis pengajaran, kelemahan utamanya adalah ketrsediaan sarana prasarana pendukung seperti jaringan internet, ketersediaan komputer, dan berbagai sarana lainnya yang mesti disediakan. Selain itu, perlu juga didukung dengan tingkat akses yang memadai. Guna mencapai tingkat pembelajaran yang efektif, maka sudah semestinya setiap institusi pendidikan memanfaatkan perkembangan teknologi informasi. Oleh karena itu, sudah saatnya kita perlu memikirkan pemanfaatan teknologi informasi d.h.i. internet dalam setiap pengembangan kurikulum dan bahan ajar di setiap sekolah.

b. Peningkatan Skills Mahasiswa dalam Kurikulum

Secara umum manfaat pendidikan berorientasi pada kecakapan hidup bagi peserta didik adalah sebagai bekal dalam menghadapi dan memecahkan problema hidup dan kehidupan, baik sebagai pribadi yang mandiri, warga masyarakat, maupun sebagai warga negara. Jika hal itu dapat dicapai, maka faktor ketergantungan terhadap lapangan pekerjaan yang sudah ada dapat diturunkan, yang berarti produktivitas nasional.

Kecakapan hidup yang perlu menjadi bagian dalam pengembangan kurikulum dapat dipilah menjadi dua jenis utama, yaitu:

  1. kecakapan hidup yang bersifat generik (generic life skill/GLS); yang mencakup kecakapan personal (personal skill/PS) dan kecakapan sosial (social skill/SS). Kecakapan personal mencakup kecakapan akan kesadaran diri atau memahami diri (self awareness) dan kecakapan berpikir (thinking skill); sedangkan kecakapan sosial mencakup kecakapan berkomunikasi (communication skill) dan kecakapan bekerjasama (collaboration skill).
  2. kecakapan hidup spesifik (specific life skill/SLS); yaitu kecakapan untuk menghadapi pekerjaan atau keadaan tertentu, yang mencakup kecakapan akademik (academic skill) atau kecakapan intelektual dan kecakapan vokasional (vocational skill). Kecakapan akademik terkait dengan bidang pekerjaan yang lebih memerlukan pemikiran, sehingga mencakup kecakapan mengidentifikasi variabel dan hubungan antara satu dengan lainnya (identifying variables and describing relationship among them) , kecakapan merumuskan hipotesis (constructing hypotheses) , dan kecakapan merancang dan melaksanakan penelitian ( designing and implementing a research) . Kecakapan vokasional terkait dengan bidang pekerjaan yang lebih memerlukan keterampilan motorik. Kecakapan vokasional mencakup kecakapan vokasional dasar (basic vocational).

<!– /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:””; margin:0in; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} @page Section1 {size:8.5in 11.0in; margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; mso-header-margin:.5in; mso-footer-margin:.5in; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin:0in;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}

SIMPULAN

Tantangan kehidupan mendatang semestinya diperhatikan dalam pengembangan kurikulum perguruan tinggi. Tantangan tersebut dapat berupa perkembangan komunikasi dan informasi yang menyebabkan orang di belahan dunia manapun dapat meng-update informasi terkini, aspirasi masyarakat lokal, nasional, internasional yang berubah sesuai tuntutan mereka, krisis Global akan sumberdaya alam yang semakin lama semakin terbatas. Semua itu mempengaruhi kompleksitas pengembangan kurikulum Perguruan Tinggi.

Dengan demikian, pengembangan kurikulum Perguruan Tinggi yang baik adalah kurikulum yang mampu membuat lulusannya mampu memenangkan tantangan kehidupan mendatang. Sulit rasanya memenangkan masa depan hanya berasumsi pada kompetisi dengan memenangkan pertarungan dalam lintasan yang sama.Harus ada inovasi besar-besaran dan provokatif agar sebuah pertarungan dimenangkan dengan mencanangkan tujuan sambil merancang jalan dengan melampui jalur-jalur yang sudah ada. Oleh karena itu, pengembangan kurikulum yang berbasis pada kewiraswastaan (entpreneurship) kenyataanya sangat diperlukan untuk meningkatkan efesiensi dan efektivitas lulusan untuk menyongsong dunia kerja ditengah persaingan global.

Dalam pengembangan ini, digunakan dua teori pengembangan, yaitu The administrative mode dan The grass root model. Dan untuk menunjang pengembangangan kurikulum tersebut, dipergunakan Internet sebagai media pembelajaran serta kecakapan hidup (lifeskill) sebagai bagian yang tak terpisahkan.

Berdasarkan hal diatas, harapannya, PT dapat mengatasi atau menerapkan penyelesaian masalah (problem solving) akan semua ketimpangan yang ada. Pentingnya perubahan sistem pendidikan yang lebih mengacu pada realitas yang terjadi di masyarakat dan persaingan global, merupakan hal yang mendasar dan secepatnya perlu mendapatkan perhatian dari semua pihak, terutrama Perguruan Tingi. Meskipun output tidak serta merta didapat sesuai harapan dan kenyataan nantinya, setidaknya langkah awal yang tepat sudah dilakukan. Kesinambungan (kontinuitas) akan penataan dan perubahan sistem pendidikan, akan mengantarkan PT kepada kondisi yang membuat peserta didik nantinya keluar dari lingkaran permasalahan klasik di negeri ini, yaitu pengangguran. Semoga PT tidak selalu melahirkan sarjana yang tidak terserap ke dunia kerja, namun harus bisa menciptakan sarjana yang siap menjawab tantangan kerja dan mampu menciptakan lapangan kerja sendiri. Keluaran (output) yang diinginkan, setidaknya akan mengurangi jumlah pengangguran terdidik di negeri ini, ditengah ketatnya persaingan pada era globalisasi dan informasi. (B.J. GUNAWAN)

Daftar Pusataka

Arikunto Suharsimi.2002. Prosedur Penelitian; Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta; Rineka Cipta.

Asep Saepudin, 2003, Penerapan Teknologi Informasi dalam Penddikan Masyarakat, Jurnal Teknodik, Edisi No.12/VII/Oktober/2003.

Boeriswati, Endry. 2008. Program Manajemen Program Bidang Studi. Jakarta; Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional.

Djamarah Syaiful Bahri.2000. Guru dan Anak Didik Dalam, Interaksi Edukatif. Jakarta. Rineka Cipta.

Mas’ud, Abdurrahman. 2002. Menggagas Format Pendidikan Nondikotomik. Yogyakarta: Gagas Media

Muhaimin.2005. Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam di Sekolah, Madrasah dan di Perguruan Tinggi. Bandung. Rosda Karya..

Muhaimin. 2003. Arah Baru Pengembangan Pendidikan Islam; Pemberdayaan, Pengembangan Kurikulum, Hingga Redefinisi Islamisasi Pengetahuan. Bandung; Nuansa Cendikia.

Mulkhan, Abdul Munir. 2002. Nalar Spiritual Pendidikan. Yogyakarta: Tiara Wacana.

Ndraha Tandziduhu, Manajemen Perguruan Tinggi; Jakarta: Bina Aksara. 1998.
Nurdin Syafrudin, Guru Professional Implementasi Kurikulum. Jakarta. Ciputat Pers. 2002..

Palmer, Joy A (Ed.) 2003. 50 Pemikir Pendidikan diterjemahkan Farid Assifa. Yogyakarta: Jendela

Soekartawi, 2003. Prinsip Dasar E-learning : Teori dan Aplikasinya di Indonesia, Jurnal Teknodik. Edisi No.12/VII/Oktober/2003

Komunitas ACBI

komunitas ACBI (Aku Cinta Bahasa Indonesia) merupakan komunitas yang didirikan oleh Duta Bahasa Sulsel 08 pada Jurusan Pendidikan Bahasa Asing Jerman. Walaupun saat ini jumlah mahasiswa yang tergabung dalam komunitas ini belum terlalu banyak, akan tetapi kegiatan yang diadakan sekali seminggu terus dikembangkan menjadi komunitas yang mampu menjadi mitra bagi sosialisasi kebahasaan khususnya pada lingkunagan kampus.

Hal-hal yang dibahas pada komunitas ini adalah sbb;

A. Wawasan kebahasaan.

B. Berbahasa Indonesia yang baik dan benar.

C. Acuan menjadi pribadi yang menarik dan santun berbahasa.

D. Pembahasan tema dengan menggunakan 3 bahasa (Indonesia, daerah, asing).

E. Pembahasan masalah kebahasaan dan kesusatraan.

F. Apresiasi bakat dibidang kebahasaan.

  • Kalender

    • Desember 2016
      S S R K J S M
      « Mar    
       1234
      567891011
      12131415161718
      19202122232425
      262728293031  
  • Cari