Literatur Jerman


v\:* {behavior:url(#default#VML);}
o\:* {behavior:url(#default#VML);}
w\:* {behavior:url(#default#VML);}
.shape {behavior:url(#default#VML);}

st1\:*{behavior:url(#ieooui) }
<!– /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:””; margin:0in; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} @page Section1 {size:8.5in 11.0in; margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.4in; mso-header-margin:.5in; mso-footer-margin:.5in; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} /* List Definitions */ @list l0 {mso-list-id:1390419620; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:-1675712466 67698709 67698705 -1795410338 1994394906 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l0:level1 {mso-level-number-format:alpha-upper; mso-level-tab-stop:.25in; mso-level-number-position:left; margin-left:.25in; text-indent:-.25in;} @list l0:level2 {mso-level-text:”%2\)”; mso-level-tab-stop:1.0in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in;} @list l0:level3 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:; mso-level-tab-stop:108.35pt; mso-level-number-position:left; margin-left:109.8pt; text-indent:-.15in; mso-ansi-font-size:10.0pt; mso-bidi-font-size:10.0pt; font-family:Symbol;} @list l0:level4 {mso-level-text:”%4\)”; mso-level-tab-stop:2.0in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in; mso-ansi-font-weight:bold;} ol {margin-bottom:0in;} ul {margin-bottom:0in;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin:0in;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}

Literatur (Kesusatraan) Jerman

Sastra (Sansekerta, shastra) merupakan kata serapan dari bahasa Sansekerta śāstra, yang berarti “teks yang mengandung instruksi” atau “pedoman“, dari kata dasar śās- yang berarti “instruksi” atau “ajaran“. Dalam bahasa Indonesia kata ini biasa digunakan untuk merujuk kepada “kesusastraan” atau sebuah jenis tulisan yang memiliki arti atau keindahan tertentu. Tetapi kata “sastra” bisa pula merujuk kepada semua jenis tulisan, apakah ini indah atau tidak Selain itu dalam arti kesusastraan, sastra bisa dibagi menjadi sastra tertulis atau sastra lisan (sastra oral).

Kesusatraan Jerman

Sastra Jerman pada dasarnya meliputi segala karya jiwa bangsa Jerman, baik tertulis maupun lisan, yang mempunyai ciri khas Jerman, dalam arti mencerminkan pandangan hidup, keyakinan dan adat istiadat yang khas.

A. Pembabakan Sejarah Kesusatraan Jerman

Sebelum Perang Dunia II terdapat periodisasi sederhana yang membagi sejarah kesusatraan Jerman kedalam delapan babak sebagai berikut:

1) Dari awal tahun Masehi sampai zaman Carolus Magnus (Karl der Grosse) alias Karel yang Agung (768-814), yaitu zaman saga (cerita rakyat atau hikayat) kepahlawanan kuno.

2) Dari zaman Karl der Grosse sampai awal abad ke-12 (800-1100). Pada masa ini, kesusatraan Jerman berada ditangan kaum gereja (Geistlichdichtung).

3) Puncak perkembangan kesusatraan Jerman (1100-1300). Kesusatraan teutama dikembangkan oleh kalangan bangsawan, yaitu kasta ksatria, (Ritter), yang disebut Ritterlichedichtung.

4) Pengembangan kesusatraan berada ditangan golongan sarjana, “zaman meniru” (Zeit der Nachahnung) (1624-1748).

5) Puncak kedua perkembangan kesusatraan Jerman (1748-1871).

6) Kesusatraan Jerman dari tahun 1871 samapi 1914.

B. MASA SEBELUM TAHUN 1750

1) Zaman Carolus Magnus (768-814), masa perubahan dalam kehidupan spiritual, begitu pula dalam kesusatraan bangsa Jerman. Karl yang Agung berencana untuk menyatukan semua keturunan bangsa Jerman di bawah kekuasaanya dan membimbing mereka ke arah agama Kristen, meningkatkan pengetahuan yang ditakdirkan mejadi guru rakyat, mendirikan sekolah biara, serta sikapnya yang menjungjung tinggi Kepribadian bangsa Jerman, diantaranya dengan memelopori penggunaan nama-nama bulan dalam bahasa Jerman.

2) Hildesbrandslied, peninggalan satra rakyat jerman abad ke-8 yang mengisahkan sebagian dari saga Dietrich.

3) Kesusatraan Kristen Abad Ke-9, peninggalan-peninggalan terpenting dari zaman ini spt, Doa Wessobrunn (permohonan ketauhidan dan menunaikan kehendak Tuhan), Muspilli (menceritakan hari kiamat),Heliand dsb.

4) Zaman Kesusatraan Latin, dalam segala kegiatan kesusatraan, bahasa latin digunakan.

C. SPAETRENAISSANCE DAN BAROCK (ABAD KE-17)

Pada masa ini ini bahasa Jerman penuh dengan kita asing terutama bahasa Roman , sehingga bahasa lisan dan tulisan menjadi campur aduk. Hal tersebut disebutkan oleh banyaknya pasukan asingh dan pelarian yang datang ke Jerman. Lirik terpenting zaman ini ialah lirik keagamaan.

1) Spaetrenaissance, sering disebut sebagai akhir renaisans, yang menampakkan pengaruhnya dalam bidang sastra, memperlihatkan ketegasan dan ketenangan garis-garis sederhana dalam seni antik dan seni renaisans.

2) Barock, soal batiniah yang lebih mendalam dan mencerminkan perasaan sastrawannya, penih dengan gerak dan garis yang berbelit-belit yang hamper memberi kesan kacau dengan dengan hiasan berlebih-lebihan, namun mempunyai daya kesan mengagumkan.

D. AUFKLAERUNG (1700-1780)

Aufkklaerung merupakan aliran jiwa yang berkembang dibawah pengaruh rasionalisme Jerman. Kita Aufklaerung seolah-olah sebagai semboyan perjuangan, karena kata itu berarti penerangan jiwa, pembebasan dari prasangka tradisional, penghancuran segala keburukan misalnya penyiksaan dalam peradilan. Salah satu cirinya ialah bahwa akal manusia dapat dan akan melahirkan kemajuan manusia kea rah kebebasan dan kebahagiaan yang tidak akan terhenti. Kemajuan itu secara praktis betujuan untuk memperbaiki kehidupan manusia.

Pelopor terkemuka zaman ini ialah ahli filsafat Liebnis. Ia berkeyakinan bahwa alam semesta dikuasai oleh akal dan ia mempercayai bahwa Tuhan telah meciptakan bumi ini sebagai dunia yang terbaik diantara dunia-dunia lainnya.

Karya-karya sastranya seperti, Klasisme, Empfindsamkit, Rokoko, Kritik, dan Drama.

E. STURM UND DRANG DAN KLASSIK

1) Sturm und Drang merupakan istilah yang diambil dari judul drama karya Maximilian von Klinger dan maksudnya ialah gelora dan desakan hati (Sturm=topan, Drang=desakan). Sturm und Drang merupakan generasi sastrawan baru yang timbul dengan hati bergelora menentang rasa puas ini dan memperjuangkan unsur-unsur kekuatan batin yang irasional yang terdesak oleh gerakan Aufklaerung.Orang yang sangat besar pengaruhnya terhadap generasi muda masa ini ialahahlin filsafat Perancis Jean Jaques Rousseau (1712-1778). Ia mengajarkan bahwa manusia akan lebih berbahagian dan bersifat lebih baik jiak berada dalam keadaan alami yang asli daripada berada dibawah kekuasaan kebudayaan. Demngan demikiaan, Rosseau megajarkan bahwa kebudayaan bukanlah membawa kemajuan, melainkan penyelewengan.

2) Peralihan ke Zaman Klassik, perjalanan hidup seperti Goethe dan Schiller menunjukkan pergulatan untuk mencapai perdamaisn. Hasil pergulatan ini berupa karya sastra yang matang dan murni pada tahap kedewasaan mereka.

JOHANN WOLFGANG VON GOETHE (1749-1839)

oethe dilahirkan pada 28 Agustus 1749 di Frankfurt sebagai anak orang berada. Dari ayahnya, Johan Kaspar Goethe, ia mewarisi sikap hidup tertib dan tenang serta bersungguh-sungguh. Sedangkan ibunya, Katharina Elisabeth, mewariskan kepadanya sifat berfantasi yang hidup serta kemahiran bercerita.

Karena kota kelahirannya adalah kota dagang yang berhubungan luas dan penuh dengan peninggalan-peninggalan sejarah, maka persyaratan dasar bagi tumbuhnyamenjadi seorang seniman jenius tersedia. Di kota Strassburg terjadi sua kejadian penting dalam hidupnya, Pertama, perkenalannya dengan Herder yang untuk sementara ada di kota itu, suatu pertemuan antara dua orang yang berjiwa besar yang sebenarnya merupakan detik kelahiran periode ,,m und Drang”. Kedua, peristiwa yang mematangkan Goethe sebagai sastrawan ialah percintaannya dengan puteri pendeta di Dusun Susenheim, dekat Stassburg bernama Friederike Brion.

FRIERICH SCHILLER (1759-1805)

ohan Christop Friederich Schiller dilahirkan pada 10 November 1759 di Marbach, kota ditepi Sungai Neckar. Berasal dari keluarga sederhana, ayahnya adalah perwira dalam dinas ketentraan Raja Karl Eugene von Wuerttemberg yang memerintah negarannya secara sewenang-wenang dengan segala gejalannya, seperti pemborosan di istana, penindasan rakyat. Mula-mula ia didik menjadi ahli hokum, namum kemudian memilih bidang kedokteran, hingga menjadi dokter. Paksaan dan tekanan yang dideritannya dalam asrama melahirkan hasrat memberontak dalam jiwanya untuk mencapai kebebasan dan ini ia lampiaskan dalam karyan drama pertamanya, die Rauber.

F. ROMANTIK

Romantik merupakan aliran sastra yang bertendens makin berbeda dari tendensi Klasik yang merupakan kerja sama Goethe dan Schiller pada tahun-tahun terakhir abad ke-18. aliran romatik bersifat subjektif;tidak ada norma umum dalam kesusilaan;setiap manusia mempunyai hukum kesusilaannya sendiri yang ditentukan oleh wataknya. Kaum romatik juga mengemari rahasia kehidupan rohani yang belum dikenal, alam diluar sadar yang terdapat dalam impian dan dunia nafsu, rahasia dibalik alam nyata yang tampil, misalnya, dalam magnetifisme dan hipotesis. Dalam aliran Aufklarung menyamakan agama dan kesusilaan yang menghilangkan kemandirian, maka aliran Romatik mengembalikan kedudukannya.

Karena merasa tidak puas dengan keadaan zaman, para sastrawan Romantik dengan semangat muda yang bergelora, berjuang untuk menciptakan kehidupan dan kebudayaan baru. Justru karena hasrat pembaharuan inilah mereka menoleh ke zaman lampau yang kekuatan dan kenyataannya, menurut mereka, harus dimanfaatkan guna membangung hari depan yang gemilang. Para pujangga Romantik lama seperti Dante dan Cervantes ditemukan kembali, sedangkan Shakespear disanjung sebagai pujangga Romantik. Karya tertinggi seni terjemahan Zaman Romantik ialah menerjemahkan karya-karya Shakespeare oleh Ludwig Tieck dan August Wilhelm Schlegel.

1) Sastera Romantik

Kaum Romantik mengangap tugas sastra sebagai tugas yang luhur.menurut anggapan mereka, sastra tidak boleh melukiskan keadaan nyuata, melainkan menciptakan kenyataan yang lebih nyata, yang bersumber pada dugaan dan perasaan.oleh karena itu, dongen (Maerdchen) merupakan bentuk seni yang banyak digunakan. Bahasa sastra yang digunakan umumnya tidak bersifat realistis sama sekali, kadang-kadang tidak menentu dan sering sekali sangat banyak mengandung unsur musik. Sementara seni drama terdesak, hanya Kleist saja yang dramawan.

2) Romantik Lama dan Baru (Aeltere und Juegere Romantik)

· Aeltere Romantik (1759-1805) bersifat sangat filosofis dan teoritis, sebagian berhubungan erat dengan filsafat Fichte dan Schelling. Masa ini praktis tidak produktif. Pusat gerakan kota ini adalah kota Jenna, sedangkan tokoh-tokoh utamanya dua bersaudara Friederich dan August Wilhelm Schegel, Tieck dan Novalis. Mereka lebih produkti dalam bidang kritik dan sejarah daripada sastra.tokoh yang paling penting dan produktif adalah Ludwig Tieck. Karya-karyanya menyebarkan gerakan Romantik ke kalangan lebih luas.

· Juengere Romantik (1805) kurang teoritis, namun lebih berperasaan, lebih kerakyatan dan lebih produktif. Pusatnya yang terpenting adalah Heidelberg dan Berlin. Tokoh-tokohnya antara lain Achim von Arnim, Clemes vonm Betano. Tiga tokoh penting adalah Jean Paul, Friederich Heulderin dan Heirich von Kleis.

3) Kesimpulan Masa Goethe

· Kesusatraan

Hari lahir dan hari awalnya merupakan batas awal dan akhir puncak perkembangan kesusatraan Jerman. Dengan demikian, masa Goethe meliputi akhir zaman Aeufklaerung, zaman Sturm und Drang, Masa Klasik dan Masa Romantik.

· Filsafat

Kehidupan rohani yang ramai dalam karya-karyanya berpengaruh juga pada lapangan lain. Filsafat mencapai puncaknya pada waktu itu pula. Ide-ide revolusioner Imanuel Kant (1724-1804) yang menjadi daya penggerak yang kuat suatu aliran yang disebut Idealismus. Karena prestasi-prestasi besar bangsa Jerman mendapat julukan “das Volk der Dichter und Denker” (Bangsa Sastrawan dan Pemikir).

· Musik

Disamping sastra dan filsafat, prestasi bangsa Jerman pada masa Goethe adalah puisi. Pada masanya, perkembangan musik kamar dan sinfoni sangatlah menonjol, dengan tokoh-tokoh Joseph Hayda dan Wolfgang Amadeus Mozart, dan mencapai puncak pada Ludwig van Bethoven.

G. JUNGES DEUTSCHLAND und BIEDERMEIR (1825-1855)

Kesusatraan Jerman sesudah masa Goethe mengalami perubahan yang sangat berarti, sehingga memunculkan beberapa aliran setelahnya. Dua aliran yang ada, yakni Junges Deutschland (Jerman Muda) dan Biedermeier merupakan dua aliran sastra terpenting yang sifatnya berlainan, bahkan bertentangan dengan yang ada sebelumnya.

1) Jiwa Junges Deutschland, bersumber sebagian besar pada keadaan politik zaman itu, tidak puas terhadap keadaan politik yang tampak menguasai suasana, terutama setelah bebasnya Austria dan Prusia dari kekuasaan Napoleon. Para sastrawan muda Jerman berjuang melawan kekuasaan negara ini guna memperoleh kebebasan, baik dalam agama maupun politik. Menurut pendapat mereka, sastra harus menjadi senjata dalam perjuangan untuk memperoleh kebebasan. Sastra harus membahas masalah aktual dalam memperjuangkan masa depan yang lebih baik. Pelopor aliran ini Henrich Heine.

2) Biedermeier, sastra yang menjauhkan diri dari kehidupan sehari-hari dan dari hal-hal yang bersifat aktual. Sifat khasnya ialah menjauhkan diri dari kehidupan politik yang suasananya kadang-kadang diliputi kecemasan dan hasrat untuk hidup tertib dan sederhana. Pelopornya ialah dua sastrawan dari Austria, Grillparzer dan Stifter.

H. POETISCHER REALISMUS (1850-1890)

Aliran ini merupakan ungkapan rasa kebanggaan yang kuat, setelah penyatuan negara Jerman oleh Biscmarck (1871), yang kemudian meningkat menjadi kebanggaan nasional.

1) Kehidupan Rohani, dalam kehidupan rohani tampak jelas penolakan terhadap idealis zaman Goethe. Filsafat berkaitan erat dengan ilmu pengetahuan alam dan secara sadar membatasi diri pada yang nyata, yang positif. Cita-cita hidup susila zaman ini bersifat khas kenyataan, yaitu kenikmatan hidup, kegiatan kerja dan kejujuran.

2) Sastra, pada zaman ini melukiskan kehidupan masyarakat tersebut, yang disebut Poetischer Realismus. Sastrawan pendukungnya tidak merupakan kelompok yang bulat dan tidak memiliki kerangka seni yang didukung pandangan hidup yang sama. Hanya satu persamaan diantara mereka yaitu dalam hal menghayati kenyataan, baik lahir dan batin, dan kegemaran melukiskan kenyataan sampai hal-hal yang kecil dan ringan mengalami perkembangan yang tinggi

I. NATURALISMUS und IMPRESSIONISMUS

1) Naturalismus

Aliran sastra yang meliputi seluruh Eropa, yang disebabkan oleh dua hal, Pertama, dimana-mana di Eropa Sastar pada abad ke-19 menunjukkan perkembangan kea rah seni yang ingin mendekati kenyataan dan yang mencapai puncaknya dalam Naturalisme. Kedua, pendapat orang mengenai kehidupan dan manusia karena perkembangan ilmu pengetahuan zaman itu tersalurkan kearah yang sama. Sifat khas para sastrawannya ialah bahwa dalam karya mereka tidak pernah ada penghukuman terhadap kejahatan, melainkan hanya pemnjelasan mengapa karena keturunan dan lingkungan seorang took harus mnjadai penjahat. Sebagian besar dari mereka lebih gemar melukiskan masyarakat lapisan terbawah, oleh karena itu keburukan social sangat menonjol.

2) Impressionismus

Mengungkapkan kesan-kesan yang diperoleh dari kenyataan. Mereka berpendapat bahwa subjektivitas setiap seniman terlepas dari pengungkapan secara objektif kenyataan. Mereka hanyan ingin mengungkapkan kesan-kesan yang mereka peroleh dari kenyataan setepat mungkin dan mencatat kesan-kesan berdasarkan pendengaran dan penglihatan secermat-cermatnya. Semua ragam warna, gerakan, dan suara diungkapkan dengan kata-kata yang setepat-tepatnya.

J. NEUROMANTIK UND NEUKLASIK

1) Neuromantik

Neuromantik merupakan aliran yang memiliki banyak persamaan, yang para sastrawan terkemuka pada waktu itu mencoba mencari ideal sastra yang baru. Cita-cita yang terpancar dari aliran ini ialah kebutuhan baru akan sesuatu yang bersifat metafisik, yaitu membahas persoalan apa guna hidup dan mati, dan rasa rindu kepada alam impian yang indah. Kaum neuromantik memuja hidup sebagai suatu rahasia yang mengandung banyak arti dan makna.

Bahasa mereka bukan lagi bahasa sehari-hari, melainkan bahasa seni yang bermusik dan halus. Prosa dan syairnya bersifat lembut, seolah-olah berada dalam impian dan penuh rasa sedih. Seringkali bersifat kurang jelas dan penuh rahasia karena ingin menciptakan suatu tertentu atau ingin menggambarkan sesuatu yang absrak.

Tokoh-tokoh Neuromantik Jerman terpenting ialah Stefan George, Hugo von Hofmannsthall, Reiner Maria, Ricarda Huch, Hans Carossa, dll.

2) Neuklasik

Yang terkandung dalam pengertian “Klassik” adalah keserasian (harmoni) batin dan kematangan sebagai manusia yang biasanya baru tercapai pada usia lanjut.

Jumlah kelompok Neuklassik pun kecil dan dianggap sebagai aliran bawah yang tidak pernah menjangkau suatu generasi. Kelompok sastrawan ini mempunyai kesamaan dalam mengalami sastra Klassik, baik Yunani, Romawi, atau Jerman, dan mereka sangat keras dalam hal bentuk, yang sering dipengaruhi oleh klasik Romawi. Kekuatan yang mereka cari adalah kecermatan daya ungkap dan pengolahan terhadap hal-hal yang hakiki. Yang termasuk dalam kelompok ini adalah Paul Ernst, Wilhelm Schaefer, Rudolf Binding.

K. EXPRESIONISMUS

xpresionismus merupakan aliran sastra yang menguasai Jerman pada tahun 1910 sampai 1930 dan mengesangkan hakikat benda itu. Yang ingin ditonjolkan bukan kulit yang tidak penting, melaingkan intinya, hakikatnya.

Mereka memproyeksikan getaran jiwa pribadi pada gejala dunia luar itu, sehingga manusia dan kehidupan jiwanya menjadi pusat perhatian seni.

· Seni Lukis, para seniman pada zaman ini menganggap semua benda di dunia adalah berjiwa, yang pada hakikatnya adalah jiwa mereka sendiri, yang telah dianggapnya telah ditemukan kembali dalam benda-benda itu.

· Kesusatraan, para sastrawan mengumandangkan dengan penih semangat cita-cita kemanusiaan baru dan masyarakat yang harus memmberlakukan keadilan sosial dan kegairahan kerja lebih besar bagi pekerja.

· Lirik, bahasa ekspresionis jauh berbeda dari bahasa yan selama waktu itu dipakai dalam karya sastra, bentuk lirik sangat bebas, ekstase dan perasaan ditampilkan secara leluasa; kata-kata muluk seperti hakikat, alam semesta, dunia, alam kosmik dihambur-hamburkan; teriakan, jeritan, dsb, sebagai luapan perasaan hampir tak dapat diungkapkan dengan kata-kata.

· Drama, bentuk ini digunakan untuk membicarakan masalah-masalah dalam hidup. Orang tidak ditampilkan sebagai tokoh individual melainkan sebagai wakil suatu gagasan dan dilukiskansebagai wakil suatu jenis atau golongan.

· Tokoh-Tokohnya, Tokoh Lirik terpenting ialah Frans Werfel, Georg Heym, August Stramm, Tokoh Drama terbesar Jerman adalah Walter Hasenclever.

L. NEUE SACHLICHKEIT

Neue Sachlichkeit (Keobyektifan Baru) adalah istilah yang dipakai oleh ilmu kesusastraan untuk menyimpulkan ciri khas dalam karya kebanyakan pengarang antinazi.

Dalam karya mereka itu jelas berbeda dengan hasil aliran ekspresionistis, impresionistis atau simbolistis. Dalam puisi dapat dibedakan tiga jenis. Pertama: puisi yang obyektif, berbahasa sederhana dan politis, misalnya dari Brecht dan Tucholsky. Kedua: puisi alam dari aliran Naturmagie (Magi alam) yang bertema alam yang diatur oleh sesuatu yang transenden, misalnya dari Huchel dan Loerke. Ketiga: puisi yang konservatif seperti dari Carossa

Merupakan segolongan sastrawan diakhir tahun 1920-an yang menolak suatu karya semi demean peaking kite yang berlebihan dan gaya yang penuh perasaan, serta menganggap semua itu sebagai hal yang hampa. Seni dari aliran ini bertolak belakang dengan aliran Ekspresionisme. Aliran ini menghendaki pelukisan kenyataan yan harus bebas dari perasaan sehingga menimbulkan sesuatu yang baru.

Tokoh-tokohnya adalah Erich Kastner dan Bertold Brecht dengan karyanya Dreigroschenoper (1982) dan Lindbergh Flug (1928).

Erich Kaestner (1898-1956)

Ia melihat dan menggambarkan dunia secara nyata , sadar dan sering sinis. Yang menjadikannya sangat terkenal ialah cerita-ceritanya seperti Emil und die Detektive, drei Manner im Schnee dan Die Verschwundene Miniatur. Buku-buku ini diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dan di semua negara Eropa menjadi buku bacaan dalam pengajaran bahasa Jerman. Kaestner bukan sastrawan besar , namun karena bernada baru ia justru menjadi tokoh penting.

Bertold Brecht (1898-1956)

Brecht sebelum perang dunia II dalam karya-karyanya menempuh jalan baru dalam kesusatraan. Ia melukisakan kehidupan golongan penentang kekuasaan Hittler yang penuh siksaan, sangat memukul dan pedas, namun tanpa dilebih-lebihkan.

Selama PD2di Amerika ia menghasilkan banyak cerita untuk radio yang sebagaian besar temanya bersumber pada masalah politik.

M. NEUE HEIMATKUNST

Tokoh-Tokohnya antara lain Renst Wichert, fdriderich Griese dan Josef Ponten, yang satu sama lain memperlihatkan perbedaan tidak kecil. Friedrich Giese lahir tahun 1890 yanmg cerita dan romannya sangat terikat pada kampong halamannya., Mecklenburg melukiskan tipe petani Jerman Utara yang tanpa banyak bicara menunjukkan tugas pekerjaan dan kewajiban kemanusiaan mereka penuh tanggung jawab.Josef Ponten karyanya menruh 00nat besar terhadap arsitektur, pemandangan alam asing dan geoilogi, meskipun terhadap kehidupan pedesaan ia dapat mengungkapknnya dengan baik. Dalam cerpennya khusunya adegan yang meneganggkan ia sangat pandai mengungkapkan dengan kata dan dialog yang singkat namun mengasyikkan.

N. ZAMAN NAZI

Kesusatraan Jerman pada zaman kekuasaan Hitler mengalami kesulitan dalam hubungannya dengan rezim ini. Reazim ini demikian mencekam perikehidupan zaman itu hingga kaum sasterawan terpecah menjadi dua golongan. Tahun yang sangat menentukan adalah 1983, ketika Hitler mulai berkuasa. Banyak diantara mereka tetap tinggal di Jermankarena mereka menaruh simpati tertentu terhadap kekuasaan baru itu atau ada juga yang tidak menaruh simpati terhadapnya, menantikan berakhirnya kekuasaaan Hitler disampin tetapa mmelihara hubungan dengan dunia pembaca Jerman. Namun, tidak sedikit pula yang meninggalkan tanah airkarena berdarah, yahudi atau karena menntang poitik baru.

Dianntara yang tetap di Jerman dapat disebut beberapa nama orang terkemuka seperti FGriedrich Griese dan Hans Grimm. Sedangkan yang meninggalkan tanah air di antarannya adalah Stefan Zweig dan Frans Werfel dan Thomas Mann. Mereka mengeluarkan karya-karyannya diluar negeri, sedangkan di jerman sendiri dilarang.

Tahun 1933, waktu kekuasaan direbut oleh Hitler, membawa perubahan yang besar untuk banyak pengarang. Kebebasan mencipta dihilangkan oleh rezim Nazi, dan banyak pengarang, misalnya Thomas Mann dan Bertolt Brecht, beremigrasi ke luar negeri. Dari situ mereka berjuang melawan Hitler melalui karya-karyanya. Ada pula pengarang yang menolak naziisme, tapi tetap tinggal di

Jerman dan terpaksa berhati-hati dalam melontarkan kritiknya atau tidak terlalu menggubris keadaan di sekelilingnya. Tetapi ada juga yang malahan mendukung ideologi dan pemerintah Nazi.

O. SETELAH PERANG DUNIA KE II

Selesainya Perang Dunia Kedua pada tahun 1945, jatuhnya diktator Nazi, dan hancurnya seluruh Jerman, pertama-tama dianggap oleh angkatan pengarang muda sebagai permulaan baru untuk sastera Jerman. Tapi dengan kembalinya pengarang yang beremigrasi di zaman Nazi ke Jerman ternyata pula bahwa tradisi-tradisi lama dibawa, diteruskan dan diwariskan mereka itu kepada pengarang-pengarang muda. Yang benar-benar merupakan kenyataan yang baru adalah berdirinya dua negara Jerman sejak tahun 1949.

Karena banyaknya corak dan ragam karya sastera yang sedikit demi sedikit nampak di Jerman, maka tidak mungkin lagi kesusatraan Jerman dibagi menurut aliran, ajaran atau kelompok. Bahklan tidak mungkin pula menurut pembagian tradisional dalam epik, lirik, dramatik, karena seringkali batasan-batasannya tidak tampak.

Perkembangan kesusastraan di Jerman-Barat dan Jerman-Timur sangat berbeda. Doktrin yang dominan di Jerman-Timur yang komunis itu adalah realisme sosialistis yang tidak memberi kebebasan kepada seniman. Ini menyebabkan sastra Jerman-Timur agak monoton dan tidak seanekaragam sastra di Jerman-Barat, Austria dan Swiss. Ternyata juga bahwa banyak pengarang Jerman-Timur tidak betah hidup di negara komunis itu dan pindah ke Jerman-Barat ataupun diungsikan karena mengeritik keadaan dalam negara komunis itu. Misalnya Huchel, Kirsch, Biermann, Kunert dan Kunze, yang sajaknya kami muatkan dalam antologi ini. Dengan penyatuan Jerman pada tahun 1990 sastra Jerman-Timur (dan Barat!) tinggal sejarah dan penyair-penyair Jerman dapat lagi mencipta dalam tanah air yang bersatu.

Namun, berdasarkan perkembanganya , dapat dilaihat dalam tiga tahapan berikut ini:

Tahap Pertama ditandai dengan pembahasan pengalaman selama dan sesudah perang Dunia. Tahun 1947-1952/1955 muncul generasi sastera pertama. Pada periode ini ditampilkan sejenis sastera yang seolah-olah menginventarisasikan karya-karya yang ada dan yang judulnya jelas menunjukkan keadaan pada waktu itu.

Tema-temanya meliputi laporan dokumenter mengenai zaman Nazi, tentang perang beserta akibatnya, tentang membenarkan tindakan tertentu, menyalahkan diri-sendiri dan putus asa, sampai pada dosa yang tidak dapat ditebus terhadap bangsa Yunani. Dibalik bentuk-bentuk ungkapan ini terdapat satu tujuan, yaitu penolakan mutlak terhadap masa lampau. Kira-kira tahun 1950-1952 ”sastera inventarisasi ini diganti oleh cara menulis sastera yang berpangkal tolak sama, yang mempertimbangkan juga malapetaka dan kekejian, namun disampiung penolakan mengandung pula harapan.

Sikap-sikap yang timbul pada tahap pertama, tidak lagi muncul pada tahap kedua yang berlangsung pada tahun 1952-1965. Sasterawan yang termasuk pada generasi ini diantaranya Ingeborg Bachman, Herbert Eisenreich, Hans Magnus Enzensberger. Yang menentukan tahap sastera ini ialah keadaan yang bersifat sementara, ketidakpastian satu pihak, kritik yang tegas, dan rasa tidak senang terhadap kaum yang berada pada pihak lain. Tema lain yang diungkapkan ialah keadaan sosial dan politik negara Jerman yang terpecah dua, serta kritik terhadap masyarakat dan ideologi. Generasi sastera kedua ini tidak memiliki identitas norma maupun ideologi. Ciri khas sastera tahap ini ialah berusaha bereksperimen dengan alat biasa, dengan gaya biasa, dengan gaya bahasa dan isi. Teknik yang sering digunakan ialah deformasi sampai gaya bahasa yang muluk yang lucu (Grass), parodi dan bahan asing.

(B.J. Gunawwan)

1 Komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s