Pengembangan Kurikulum Berbasis Kewiraswastaan (Entrepreneurship) dan Peningkatan Skills Menyonsong Dunia Kerja


st1\:*{behavior:url(#ieooui) }
<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:Wingdings; panose-1:5 0 0 0 0 0 0 0 0 0; mso-font-charset:2; mso-generic-font-family:auto; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:0 268435456 0 0 -2147483648 0;} @font-face {font-family:Garamond; panose-1:2 2 4 4 3 3 1 1 8 3; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:roman; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:””; margin:0in; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} p.MsoFooter, li.MsoFooter, div.MsoFooter {margin:0in; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; tab-stops:center 3.0in right 6.0in; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} @page Section1 {size:8.5in 11.0in; margin:1.2in 1.25in 1.2in 1.5in; mso-header-margin:.5in; mso-footer-margin:.5in; mso-page-numbers-chapter-style:header-1; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} /* List Definitions */ @list l0 {mso-list-id:500661959; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:-1423937442 769528594 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l0:level1 {mso-level-number-format:alpha-lower; mso-level-tab-stop:.5in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in; mso-ansi-font-weight:bold;} @list l1 {mso-list-id:630790160; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:1295420612 -1795410338 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693;} @list l1:level1 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:; mso-level-tab-stop:16.55pt; mso-level-number-position:left; margin-left:.25in; text-indent:-.15in; mso-ansi-font-size:10.0pt; mso-bidi-font-size:10.0pt; font-family:Symbol;} @list l2 {mso-list-id:1018703843; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:-1743075552 67698713 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l2:level1 {mso-level-number-format:alpha-lower; mso-level-tab-stop:117.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:117.0pt; text-indent:-.25in;} @list l3 {mso-list-id:1796944795; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:1039858274 67698709 67698713 1994394906 67698699 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l3:level1 {mso-level-number-format:alpha-upper; mso-level-tab-stop:.25in; mso-level-number-position:left; margin-left:.25in; text-indent:-.25in;} @list l3:level2 {mso-level-number-format:alpha-lower; mso-level-tab-stop:.75in; mso-level-number-position:left; margin-left:.75in; text-indent:-.25in;} @list l3:level3 {mso-level-text:”%3\)”; mso-level-tab-stop:99.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:99.0pt; text-indent:-.25in; mso-ansi-font-weight:bold;} @list l3:level4 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:; mso-level-tab-stop:1.75in; mso-level-number-position:left; margin-left:1.75in; text-indent:-.25in; font-family:Wingdings;} @list l4 {mso-list-id:1799377282; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:1178925914 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l4:level1 {mso-level-tab-stop:.5in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in;} ol {margin-bottom:0in;} ul {margin-bottom:0in;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin:0in;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}

PENDAHULUAN

Proses globalisasi akan terus merebak. Tidak ada satu wilayah pun yang dapat menghindari dari kecenderungan perubahan yang bersifat global tersebut, dengan segala berkah, problem dan tantangan-tantangan yang menyertainya. Perubahan yang bersifat global yang begitu cepat menuntut kepekaan organisasi dalam merespon perubahan yang terjadi agar tetap exist dalam kancah persaingan global.

Tantangan utama dunia pendidikan Indonesia dewasa ini dan di masa depan adalah kemampuan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Dalam kaitan ini menarik untuk dikaji bagaimana kualitas pendidikan kita dan upaya apa yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan sehingga bisa menghasilkan sumber daya manusia yang lebih berkualitas sebagaimana diharapkan, agar bangsa Indonesia menjadi bangsa yang produktif, efisien, dan memiliki kepercayaan diri yang kuat sehingga mampu bersaing dengan bangsa-bangsa lain dalam kehidupan global ini.

Dunia pendidikan dalam hal ini Perguruan Tinggi juga harus mengantisipasi kecenderungan-kecenderungan global yang akan terjadi. Beberapa kecenderungan global yang perlu untuk diantisipasi oleh Perguruan Tinggi antara lain adalah: Pertama, proses investasi dan re-investasi yang terjadi di dunia industri berlangsung sangat cepat, menyebabkan terjadinya perubahan-perubahan yang sangat cepat pula pada organisasi kerja, struktur pekerjaan, struktur jabatan dan kualifikasi tenaga kerja yang dibutuhkan dengan kualifikasi yang lebih tinggi. Kedua, perkembangan industri, komunikasi dan informasi yang semakin cepat akan melahirkan “knowledge worker” yang semakin besar jumlahnya. Knowledge worker ini adalah pekerjaan yang berkaitan erat dengan information processing. Ketiga, berkembang dan meluasnya ide demokratisasi yang bersifat substansi,yang menuntut perlunya kreatifitas dosen. Dengan sendirinya akan bermunculan berbagai bentuk praktekkurikuler yang berbeda satu dengan yang lain, yang kesemuanya untuk menghasilkan lulusan yang produktif dan berkualitas.

John Simmon dalam bukunya Better Schools sudah memprediksi bahwa hasil pendidikan tradisional semacam itu hanya akan melahirkan lulusan yang hanya pantas jadi pengikut bukannya jadi pemimpin. Jenis kerja yang mereka pilih adalah kerja yang sifatnya rutin dan formal, bukannya kerja yang memerlukan inisiatif, kreatifitas dan entrepreneurship.

Sudah barang tentu dengan kualitas dasar sumber daya manusia tersebut di atas, bangsa Indonesia sulit untuk dapat menghadapi tantangan-tantangan yang muncul sebagai akibat adanya kecenderungan global, termasuk ketidakmampuan perguruan tinggi membaca kebutuhan lapangan pekerjaan. Oleh karena itu agar SDM Indonesia mampu bersaing dalam dunia global diperlukan adanya reformasi dalam pendidikan, yang salah satu di antara aspek reformasi tersebut adalah perlu dikembangkannya pendidikan yang berwawasan global dengan pembaharuan pada kurikulum pembelajaran.

Pembaharuan yang dimaksudkan mengarah pada program bidang studi. Ada beberapa program studi yang tidak layak dipertahankan, itu pun masih dipertahankan keberadaannya. Seolah bertujuan untuk melengkapi program studi lainnya supaya kelihatan banyak program studi yang diberlangsungkan dalam perguruan tinggi tersebut. Sementara ada beberapa program studi yang sangat diminati konsumen pendidikan, program studi tersebut tidak digarap secara serius, sebut saja perlengkapan infrastruktur dan suprakstrukturnya. Ini sangat menunjukkan bahwa pengelolaan pendidikan tinggi selama ini belum dikerjakan secara profesional.

Beberapa kecenderungan dan permasalahan yang diukemukakan di atas menuntut kualitas sumber daya manusia yang berbeda dengan kualitas yang ada dewasa ini. Muncul pertanyaan mampukah kurikulum yang dipergunakan oleh Perguruan Tinggi menghasilkan lulusan dengan kualitas yang memadai untuk menghadapi kecenderungan dan kesenjangan di atas? Hal ini menuntut perlunya pengembangan kurikulum berdasarkan jiwa kewirausahaan dan peningkatan skill dalam menyongsong dunia kerja.

PEMBAHASAN

A. Kurikulum Perguruan Tinggi

Kurikulum merupakan acuan dalam menjalangkan dan mengembangkan pendidikan suatu institusi pendidikan. Kurikulum merupakan acuan dasar pembentukan dan penjaminan tercapainya kompetensi lulusan dalam setiap program akademik pada tingkat program studi. Dalam hal kebutuhan yang dianggap perlu maka perguruan tinggi dapat menetapkan penyertaan komponen kurikulum tertentu menjadi bagian dari struktu kurikulum yang disusun oleh masing-masing program studi.

Kurikulum Perguruan Tinggi (PT) merupakan domain yang paling menentukan dari kualifikasi lulusan suatu perguruan tinggi. Kurikulum PT merupakan jawaban paling nyata atas kebutuhan riil dari para pencari tenaga kerja. Kualifikasi apa yang dibutuhkan oleh para pencari kerja, selalu diakomodasi dalam muatan kurikulum perguruan tinggi serta mampu menciptakan sistem tata pamong yang dapat mendorong pemutakhiran.

Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) sejak beberapa tahun lalu telah menyadari adanya permasalahan itu. Maka, melalui Surat Keputusan (SK) Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Nomor 232/U/2000 ditetapkan panduan-panduan untuk menyusun kurikulum PT yang lebih tanggap terhadap kebutuhan dunia kerja.

Menurut SK itu, kurikulum PT terdiri atas kurikulum inti dan kurikulum institusional (Pasal 7 Ayat 1). Baik kurikulum inti maupun institusional terdiri atas kelompok mata kuliah pengembangan kepribadian (MPK), kelompok mata kuliah keilmuan dan keterampilan (MKK), kelompok mata kuliah keahlian berkarya (MKB), kelompok mata kuliah perilaku berkarya (MPB), dan kelompok mata kuliah berkehidupan bermasyarakat (MBB).

Sesuai SK Mendiknas tersebut, perbaikan isi kurikulum menekankan pada upaya pembentukan peserta didik menjadi profesional, kompeten dan sanggup menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan.perbaikan itu harus secara tegas dimasukkan dalam silabus atau rencana isi perkuliahan inti dari pengembangan kurikulum ialah perubahan isi dan bahan kajian serta mata kuliah yang harus disesuaikan dengan setiap perubahan zaman. Perubahan kurikulum itu juga harus dilakukan terhadap kurikulum inti perkuliahan, sehingga sesuai dengan kompetensi yang akan dicapai. Kurikulum inti yang merupakan ciri kompetensi utama bersifat:

a. dasar untukmencapai kompetensi lulusan

b. acuan buku minimal mutu penyelenggaraan program studi

c. berlaku secara nasional dan internasional

d. lentur dan akomodatif terhadap perubahan yang sangat cepat di masa mendatang, dan

e. kesepakatan bersama antara kalangan perguruan tinggi, masyarakat profesi, dan pengguna lulusan.

Pemerintah memberikan otonomi pada perguruan tinggi untuk mengembangkan kurikulum. Menurut SK Mendiknas 045/u/2002, mendiknas tidak menetapkan kurikulum inti untuk setiap program studi. Dengan demikian ada kemungkinan terjadi variasi kurikulum disetiap program studi.

B. Pengembangan Kurikulum

Pengembangan Kurikulum merupakan proses pembaharuan dari kurikulum yang telah diberlakukan sebelumnya menjadi sebuah kurikulum yang berdasarkan inovasi, kreatifitas, profesionalitas, dan berwawasan global, sehingga menghasilkan lulusan yang produktif, berdaya saing, dan peka terhadap perubahan zaman

1) Model Pengembangan Kurikulum

  1. The administrative model;

Model ini merupakan model pengembangan kurikulum yang paling lama dan paling banyak digunakan. Gagasan pengembangan kurikulum datang dari para administrator pendidikan dan menggunakan prosedur administrasi. Dengan wewenang administrasinya, membentuk suatu Komisi atau Tim Pengarah pengembangan kurikulum. Anggotanya, terdiri dari pejabat di bawahnya, para ahli pendidikan, ahli kurikulum, ahli disiplin ilmu, dan para tokoh dari dunia kerja dan perusahaan. Tugas tim ini adalah merumuskan konsep-konsep dasar, landasan-landasan, kebijaksanaan dan strategi utama dalam pengembangan kurikulum. Selanjutnya administrator membentuk Tim Kerja terdiri dari para ahli pendidikan, ahli kurikulum, ahli disiplin ilmu dari perguruan tinggi, dan dosen-dosen senior, yang bertugas menyusun kurikulum yang sesungguhnya yang lebih operasional menjabarkan konsep-konsep dan kebijakan dasar yang telah digariskan oleh Tim pengarah, seperti merumuskan tujuan-tujuan yang lebih operasional, memilih sekuens materi, memilih strategi pembelajaran dan evaluasi, serta menyusun pedoman-pedoman pelaksanaan kurikulum bagi dosen-dosen. Setelah Tim Kerja selesai melaksanakan tugasnya, hasilnya dikaji ulang oleh Tim Pengarah serta para ahli lain yang berwenang atau pejabat yang kompeten.

Setelah mendapatkan beberapa penyempurnaan dan dinilai telah cukup baik, administrator pemberi tugas menetapkan berlakunya kurikulum tersebut. Karena datangnya dari atas, maka model ini disebut juga model Top – Down. Dalam pelaksanaannya, diperlukan monitoring, pengawasan dan bimbingan. Setelah berjalan beberapa saat perlu dilakukan evaluasi.

  1. The grass root model;

Model pengembangan ini merupakan lawan dari model pertama. Inisiatif dan upaya pengembangan kurikulum, bukan datang dari atas tetapi dari bawah, yaitu guru-guru atau sekolah. Model pengembangan kurikulum yang pertama, digunakan dalam sistem pengelolaan pendidikan/kurikulum yang bersifat sentralisasi, sedangkan model grass roots akan berkembang dalam sistem pendidikan yang bersifat desentralisasi. Dalam model pengembangan yang bersifat grass roots seorang dosen, sekelompok dosen atau keseluruhan dosen di suatu PT mengadakan upaya pengembangan kurikulum. Pengembangan atau penyempurnaan ini dapat berkenaan dengan suatu komponen kurikulum, satu atau beberapa bidang studi ataupun seluruh bidang studi dan seluruh komponen kurikulum. Apabila kondisinya telah memungkinkan, baik dilihat dari kemampuan dosen-dosen, fasilitas biaya maupun bahan-bahan kepustakaan, pengembangan kurikulum model grass root tampaknya akan lebih baik.

Hal itu didasarkan atas pertimbangan bahwa dosen adalah perencana, pelaksana, dan juga penyempurna dari pengajaran di kelasnya. Dialah yang paling tahu kebutuhan kelasnya, oleh karena itu dialah yang paling kompeten menyusun kurikulum bagi kelasnya.

Pengembangan kurikulum yang bersifat grass roots, mungkin hanya berlaku ntuk bidang studi tertentu atau sekolah tertentu, tetapi mungkin pula dapat digunakan untuk seluruh bidang studi pada PT. Pengembangan kurikulum yang bersifat desentralistik dengan model grass rootsnya, memungkinkan terjadinya kompetisi dalam meningkatkan mutu dan sistem pendidikan, yang pada gilirannya akan melahirkan manusia-manusia yang lebih mandiri dan kreatif.

2) Bentuk Kurikulum yang Dikembangkan

· Kurikulum Pendidikan Berjiwa Kewiraswastaan (Entrepreneurship)

Diakui maupun tidak, perguruan tinggi selama ini hanya mampu memproduksi banyak produk pemegang gelar D1, D2, D3, S1, atau mungkin S2 namun tidak bisa berbuat apa-apa setelah mereka lulus dari perguruan tinggi. Perguruan tinggi dalam konteks ini tidak bisa melakukan apa-apa, kecuali tetap menggelar pendidikan tingginya. Perguruan tinggi selama ini hanya berkutat pada teori-teori kerja guna memperbanyak peserta didiknya secara kuantitas setiap tahun, tanpa mencoba mengerti, memahami dan menganalisa seberapa banyak produk pendidikannya yang diserap dan terserap ke dunia kerja. Para alumninya dibiarkan begitu saja tanpa diberi panduan dan arah yang jelas, harus kemana dan perlu mengatur konsep teknis apa agar bisa membantu mereka mendapatkan pekerjaan. Sangat jelas, ini berkaitan erat dengan materi ajar yang selama ini tidak berhubungan langsung dengan kebutuhan kongkrit di lapangan. Dalam dunia kerja, yang dibutuhkan adalah kemampuan, skill dan kapasitas tertentu yang bisa mendorong para alumni menciptakan lapangan pekerjaan sendiri, bila mereka kemudian tidak bisa memanfaatkan gelar kesarjanaan yang disandangnya. Selama konsep-konsep pembelajaran yang diterapkan di perguruan tinggi tidak mencerminkan kebutuhan lapangan dan dunia kerja, ini sangat berisiko tinggi untuk membuat peserta didik tidak paham terhadap kenyataan yang ada di hadapan mereka. Mematangkan konsep pembelajaran yang jelas, terukur implikasinya pada efek realitas serta bersinggungan dengan dunia kerja adalah sebuah kemutlakan yang harus dicapai secara praksis. Konsep pembelajaran sedemikian itu bermuara pada bagaimana isi materi ajar perlu diciptakan dan bisa mewadahi semua kebutuhan yang nyata. Konsep pembelajaran tersebut membincangkan sekian materi yang sudah direncanakan dan disiapkan oleh perguruan tinggi dalam menggelar pendidikan tingginya. Perguruan tinggi jangan mengambil bahan materi ajar yang sangat teoritis-sentris namun harus aplikatif-sentris. Ini ditujukan guna menjadikan pendidikan tinggi betul-betul sebangun dengan kebutuhan. Materi kongkrit dan sesuai dengan kebutuhan lapangan akan diperoleh saat para pemegang perguruan tinggi bisa melihat kenyataan sosial yang ada ketika para alumninya sudah bekerja, sebut saja, apakah mereka bekerja sesuai dengan latar pendidikannya selama di perguruan tinggi atau tidak. Bila belum bekerja, mengapa itu bisa terjadi.

Perguruan tinggi dituntut untuk bisa peka dan kritis terhadap hal-hal sedemikian sebab ini merupakan tanggung jawabnya, bukan hanya memberikan pendidikan tinggi terhadap peserta didik namun tidak diperhatikan setelah mereka menyelesaikan studinya di perguruan tinggi. Konsep pembelajaran sedemikian itu juga didukung oleh perangkat keras dan lunak pihak perguruan tinggi secara memadai. Perangkat lunak adalah tingkat kemampuan dan kecerdasan seluruh sumber daya manusia yang dimiliki perguruan tinggi tersebut. Ini sangat penting sebab tanpa hal demikian, sangat sulit terjadi satu pencapaian konsep pembelajaran yang diinginkan bersama. Perangkat keras adalah sumber pendanaan perguruan tinggi yang jelas dan tepat guna membiayai sumber daya manusia yang ada demi melakukan penelitian yang akan terjun ke lapangan dalam rangka mencari tahu keberadaan setiap alumni terkait apa yang telah dikerjakannya setelah lulus dari perguruan tinggi. Bila dua hal tersebut dapat dipenuhi, sangat niscaya pembelajarannya bisa dihasilkan dengan baik.

· Pendidikan Tinggi; Pendidikan Entrepreneur

Menjawab tantangan sosial yang semakin mendesak, pengangguran kian waktu menjubel, maka pendidikan tinggi perlu diarahkan pada pendidikan entrepreneur namun tetap tidak menghilangan identitas lainnya sebagai lembaga pendidikan tinggi berorientasi pada research dan discovery. Pendidikan tinggi dituntut untuk menyemarakkan program pendidikannya yang berjiwa entrepreneur.

Ada beberapa hal yang memberikan ciri dasar pendidikan entrepreneur.

Ø Pertama, pendidikan tersebut lebih menitikberatkan pada penggalian potensi diri setiap peserta didik. Sebut saja, apabila seorang peserta didik memiliki minat dan potensi kemampuan untuk berdagang, maka hal demikian perlu dikembangkan dengan sedemikian tajam. Ketika potensi demikian diketahui dan sudah bisa ditumbuhkan, ini kemudian mengarahkan peserta didik untuk dipompa semangat, upaya dan kejiwaan untuk menekuni itu. Ini bisa dikembangkan dan ditumbuhkan dengan sedemikian pesat ketika proses pembelajaran yang dikembangkan di pendidikan tinggi tersebut secara langsung berkenaan dengan minat dan potensi kemampuan yang dipunyai peserta didik tersebut. Memberikan beberapa contoh mengenai beberapa profil seseorang yang sudah sukses dalam bidang-bidang tertentu adalah satu penggerak utama dan maha utama supaya peserta didik semakin semangat dengan dunia yang ingin digelutinya itu.

Ø Kedua, menyediakan para pengajar yang berlatar kewirausahaan ialah satu kemutlakan yang perlu dipenuhi. Ini berbicara konsep pendidikan entrepreneur yang jelas. Sebab dalam pendidikan entrepreneur, pengajar yang berlatar kewirausahaan memiliki cara dan model pengajaran yang berbeda dengan pengajar yang hanya memiliki pengetahuan teoritik namun tidak berpengalaman dalam dunia kewirausahaan. Seorang pengajar dengan nir-pengalaman kewirausahaan akan terkesan berdasarkan teks, namun tidak sesuai dengan kebutuhan dan pengalaman di lapangan. Sehingga proses pembelajarannya pun mengalami kekeringan nilai-nilai entrepreneur yang sesungguhnya perlu diwujudkan dalam proses pembelajaran sedemikian itu. Pendidikan entrepreneur berbicara hal-hal kongkrit yang perlu dipraktikkan, bukan hanya diteorikan. Sangat jelas, ada perbedaan mendasar antara seorang pengajar yang berpengalaman sebagai seseorang yang bergerak dalam kewirausahaan dan bukan. Proses penyampaian materinya pun juga berbeda ketika memberikan semangat, minat dan suasana dalam pembelajaran. Ini sesungguhnya sangat penting diperhatikan sebab hal mendasar menjadi kunci utama ketika pendidikan entrepreneur digelar. Sehingga peserta didik pun akan berbeda menanggapi penyampaian seorang pengajar yang berlatar entrepreneur dan bukan. Seorang pengajar sangat menentukan apakah proses pembelajarannya berhasil atau tidak dicerna dan dipahami oleh peserta didik. Seorang pengajar adalah orang yang akan berperan penting untuk bisa memberikan pemahaman sangat mendalam apa itu entrepreneur sesungguhnya dan secara ideal. Sehingga seorang pengajar pun dituntut untuk memiliki kemampuan yang sesuai dengan bidangnya. Oleh karenanya, peran seorang pengajar pun sangat signifikan bagi keberlangsungan pembelajaran tersebut.

Ø Ketiga, kehendak politik stakeholder perguruan tinggi sangat dibutuhkan dalam konteks ini. Sebab tanpa adanya kehendak politik yang baik dari perguruan tinggi terkait, ini sangat muskil akan melahirkan sebuah pendidikan tinggi yang baik pula. Oleh karenanya, para stakeholder perguruan tinggi diminta secara serius untuk melakukan satu orientasi pendidikan tinggi yang dibutuhkan lapangan dan pasar. Pendidikan tinggi yang berarah pada entrepreneur adalah sebuah keniscayaan. Sehingga melakukan format kurikulum pendidikan yang berjiwa entrepreneur pun disegerakan untuk digarap secara kongkrit dan praksis.

Kurikulum pendidikan tinggi yang berjiwa entrepreneur adalah dengan mendefinisikan ulang apa itu pendidikan yang dihubungkan dengan entrepreneur sebagai bagian komponen lain untuk menambah wawasan serta pengetahuan peserta didik saat terjun ke lapangan, ketika mereka selesai di bangku pendidikan tingginya. Mempersiapkan perangkat lunak (suprastruktur) yang terkait dengan kurukulum pendidikan entrepreneur adalah hal penting untuk bisa diberesi. Sebab ini adalah modal paling pokok ketimbang lainnya. Selanjutnya adalah mempersiapkan perangkat-perangkat keras atau perangkat pendukung yang bisa mempercepat bagi tercapainya pelaksanaan pendidikan yang berjiwa entrepreneur di perguruan tinggi. Perguruan tinggi harus memenuhi itu semua.

Perangkat pendukung dalam pelaksanaan kurikulum berjiwa entrepreneur adalah:

a. Pemanfaatan Internet Sebagai Media Pembelajaran

Perkembangan teknologi informasi saat ini telah menjalar dan memasuki setiap dimensi aspek kehidupan manusia. Teknolgi informasi saat ini memainkan peran yang besar didalam kegiatan bisnis, perubahan sturktur organisasi, dan manajemen organisasi. Dilain pihak, teknologi informasi juga memberikan peranan yang besar dalam pengembangan keilmuan dan menjadi sarana utama dalam suatu institusi akademik. Berdasarkan paparan diatas, terlihat bagi kita bahwa teknologi iformasi, khususnya internet memiliki peranan yang sangat penting dalam setiap dimensi pendidikan. Berkat adanya jaringan internet, maka dapat membantu setiap penyedia jasa pendidikan untuk selalu mendapat informasi-informasi yang terkini dan sesuai dengan kebutuhan.

Khususnya pada perguruan tinggi, pemanfaatan Internet mampu mengembangkan situasi belajar mengajar yang lebih kondusif dan interaktif. Dimana para peserta didik tidak lagi diperhadapkan dengan situasi yang lebih konvensional, namun mereka akan sangat terbantu dengan adanya metode pembelajaran yang lebih menekankan pada aspek pemakaian lingkungan sebagai sarana belajar.

Oleh karena itu, Elangoan, 1999, Soekartawi, 2002; Mulvihil, 1997; Utarini, 1997, dalam soekartawi (2003), menyatakan bahwa internet pada dasarnya memberikan manfaat antara lain: 1) Mahasiswa dan Dosen dapat berkomunikasi secara mudah melalui fasilitas internet secara regular atau kapan saja kegiatan berkomunikasi itu dilakukan dengan tanpa dibatasi oleh jarak, tempat dan waktu. 2) Dosen dan Mahasiswa dapat menggunakan bahan ajar atau petunjuk belajar yang terstruktur dan terjadual melalui internet, sehingga keduanya bisa saling menilai sampai berapa jauh bahan ajar dipelajari; 3) Mahasiswa dapat belajar atau me-review bahan ajar setiap saat dan di mana saja kalau diperlukan mengingat bahan ajar tersimpan di komputer. 4) Bila Mahasiswa memerlukan tambahan informasi yang berkaitan dengan bahan yang dipelajarinya, ia dapat melakukan akses di internet secara lebih mudah. 5) Baik Dosen maupun Mahasiswa dapat melakukan diskusi melalui internet yang dapat diikuti dengan jumlah peserta yang banyak, sehingga menambah ilmu pengetahuan dan wawasan yang lebih luas. 6) Berubahnya peran Mahasiswa dari yang biasanya pasif menjadi aktif; 7) Relatif lebih efisien.

Namun untuk menjadikan internet sebagai basis pengajaran, kelemahan utamanya adalah ketrsediaan sarana prasarana pendukung seperti jaringan internet, ketersediaan komputer, dan berbagai sarana lainnya yang mesti disediakan. Selain itu, perlu juga didukung dengan tingkat akses yang memadai. Guna mencapai tingkat pembelajaran yang efektif, maka sudah semestinya setiap institusi pendidikan memanfaatkan perkembangan teknologi informasi. Oleh karena itu, sudah saatnya kita perlu memikirkan pemanfaatan teknologi informasi d.h.i. internet dalam setiap pengembangan kurikulum dan bahan ajar di setiap sekolah.

b. Peningkatan Skills Mahasiswa dalam Kurikulum

Secara umum manfaat pendidikan berorientasi pada kecakapan hidup bagi peserta didik adalah sebagai bekal dalam menghadapi dan memecahkan problema hidup dan kehidupan, baik sebagai pribadi yang mandiri, warga masyarakat, maupun sebagai warga negara. Jika hal itu dapat dicapai, maka faktor ketergantungan terhadap lapangan pekerjaan yang sudah ada dapat diturunkan, yang berarti produktivitas nasional.

Kecakapan hidup yang perlu menjadi bagian dalam pengembangan kurikulum dapat dipilah menjadi dua jenis utama, yaitu:

  1. kecakapan hidup yang bersifat generik (generic life skill/GLS); yang mencakup kecakapan personal (personal skill/PS) dan kecakapan sosial (social skill/SS). Kecakapan personal mencakup kecakapan akan kesadaran diri atau memahami diri (self awareness) dan kecakapan berpikir (thinking skill); sedangkan kecakapan sosial mencakup kecakapan berkomunikasi (communication skill) dan kecakapan bekerjasama (collaboration skill).
  2. kecakapan hidup spesifik (specific life skill/SLS); yaitu kecakapan untuk menghadapi pekerjaan atau keadaan tertentu, yang mencakup kecakapan akademik (academic skill) atau kecakapan intelektual dan kecakapan vokasional (vocational skill). Kecakapan akademik terkait dengan bidang pekerjaan yang lebih memerlukan pemikiran, sehingga mencakup kecakapan mengidentifikasi variabel dan hubungan antara satu dengan lainnya (identifying variables and describing relationship among them) , kecakapan merumuskan hipotesis (constructing hypotheses) , dan kecakapan merancang dan melaksanakan penelitian ( designing and implementing a research) . Kecakapan vokasional terkait dengan bidang pekerjaan yang lebih memerlukan keterampilan motorik. Kecakapan vokasional mencakup kecakapan vokasional dasar (basic vocational).

<!– /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:””; margin:0in; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} @page Section1 {size:8.5in 11.0in; margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; mso-header-margin:.5in; mso-footer-margin:.5in; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin:0in;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}

SIMPULAN

Tantangan kehidupan mendatang semestinya diperhatikan dalam pengembangan kurikulum perguruan tinggi. Tantangan tersebut dapat berupa perkembangan komunikasi dan informasi yang menyebabkan orang di belahan dunia manapun dapat meng-update informasi terkini, aspirasi masyarakat lokal, nasional, internasional yang berubah sesuai tuntutan mereka, krisis Global akan sumberdaya alam yang semakin lama semakin terbatas. Semua itu mempengaruhi kompleksitas pengembangan kurikulum Perguruan Tinggi.

Dengan demikian, pengembangan kurikulum Perguruan Tinggi yang baik adalah kurikulum yang mampu membuat lulusannya mampu memenangkan tantangan kehidupan mendatang. Sulit rasanya memenangkan masa depan hanya berasumsi pada kompetisi dengan memenangkan pertarungan dalam lintasan yang sama.Harus ada inovasi besar-besaran dan provokatif agar sebuah pertarungan dimenangkan dengan mencanangkan tujuan sambil merancang jalan dengan melampui jalur-jalur yang sudah ada. Oleh karena itu, pengembangan kurikulum yang berbasis pada kewiraswastaan (entpreneurship) kenyataanya sangat diperlukan untuk meningkatkan efesiensi dan efektivitas lulusan untuk menyongsong dunia kerja ditengah persaingan global.

Dalam pengembangan ini, digunakan dua teori pengembangan, yaitu The administrative mode dan The grass root model. Dan untuk menunjang pengembangangan kurikulum tersebut, dipergunakan Internet sebagai media pembelajaran serta kecakapan hidup (lifeskill) sebagai bagian yang tak terpisahkan.

Berdasarkan hal diatas, harapannya, PT dapat mengatasi atau menerapkan penyelesaian masalah (problem solving) akan semua ketimpangan yang ada. Pentingnya perubahan sistem pendidikan yang lebih mengacu pada realitas yang terjadi di masyarakat dan persaingan global, merupakan hal yang mendasar dan secepatnya perlu mendapatkan perhatian dari semua pihak, terutrama Perguruan Tingi. Meskipun output tidak serta merta didapat sesuai harapan dan kenyataan nantinya, setidaknya langkah awal yang tepat sudah dilakukan. Kesinambungan (kontinuitas) akan penataan dan perubahan sistem pendidikan, akan mengantarkan PT kepada kondisi yang membuat peserta didik nantinya keluar dari lingkaran permasalahan klasik di negeri ini, yaitu pengangguran. Semoga PT tidak selalu melahirkan sarjana yang tidak terserap ke dunia kerja, namun harus bisa menciptakan sarjana yang siap menjawab tantangan kerja dan mampu menciptakan lapangan kerja sendiri. Keluaran (output) yang diinginkan, setidaknya akan mengurangi jumlah pengangguran terdidik di negeri ini, ditengah ketatnya persaingan pada era globalisasi dan informasi. (B.J. GUNAWAN)

Daftar Pusataka

Arikunto Suharsimi.2002. Prosedur Penelitian; Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta; Rineka Cipta.

Asep Saepudin, 2003, Penerapan Teknologi Informasi dalam Penddikan Masyarakat, Jurnal Teknodik, Edisi No.12/VII/Oktober/2003.

Boeriswati, Endry. 2008. Program Manajemen Program Bidang Studi. Jakarta; Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional.

Djamarah Syaiful Bahri.2000. Guru dan Anak Didik Dalam, Interaksi Edukatif. Jakarta. Rineka Cipta.

Mas’ud, Abdurrahman. 2002. Menggagas Format Pendidikan Nondikotomik. Yogyakarta: Gagas Media

Muhaimin.2005. Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam di Sekolah, Madrasah dan di Perguruan Tinggi. Bandung. Rosda Karya..

Muhaimin. 2003. Arah Baru Pengembangan Pendidikan Islam; Pemberdayaan, Pengembangan Kurikulum, Hingga Redefinisi Islamisasi Pengetahuan. Bandung; Nuansa Cendikia.

Mulkhan, Abdul Munir. 2002. Nalar Spiritual Pendidikan. Yogyakarta: Tiara Wacana.

Ndraha Tandziduhu, Manajemen Perguruan Tinggi; Jakarta: Bina Aksara. 1998.
Nurdin Syafrudin, Guru Professional Implementasi Kurikulum. Jakarta. Ciputat Pers. 2002..

Palmer, Joy A (Ed.) 2003. 50 Pemikir Pendidikan diterjemahkan Farid Assifa. Yogyakarta: Jendela

Soekartawi, 2003. Prinsip Dasar E-learning : Teori dan Aplikasinya di Indonesia, Jurnal Teknodik. Edisi No.12/VII/Oktober/2003

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s